Breaking News:

Kasus Demam Berdarah Dengue di Jatim Tembus 5.733 Kasus dengan 52 Kematian, Ini Upaya Dinkes Jatim

Per hari ini, Senin (22/6/2020) jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jatim mencapai 5.733 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 52 orang meninggal.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/sofyan arif candra sakti
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Herlin Ferliana 

SURYA.co.id | SURABAYA - Jumlah kasus demam berdarah di Provinsi Jawa Timur terus meningkat. Per hari ini, Senin (22/6/2020) jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jatim mencapai 5.733 orang.

Angka tersebut adalah angka kumulatif mulai Januari hingga 22 Juni 2020. Dari periode tersebut jumlah kasus DBD yang meninggal dunia di Jatim mencapai 52 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Herlin Ferliana mengatakan bahwa angka ini sejatinya jauh menurun dibandingkan tahun lalu di periode yang sama.

"Tahun lalu di periode yang sama kasus DBD kita di Jatim ada di angka 16.279 kasus dengan kematian 167 orang. Sedangkan tahun ini menurun dengan jumlah kasus 5.733 kasus dengan kematian 52 orang," kata Herlin saat dikonfirmasi Surya.

Terkait sebaran, kasus DBD terbanyak di Jatim ada di Kabupaten Malang yaitu sebanyak 1.021 orang, kemudian disusul dengan Kabupaten Jember sebanyak 662 orang, dan Kabupaten Pacitan 447 orang.

Sedangkan sebaran kasus meninggal terbanyak ada di Kabupaten Pacitan sebanyak 7 orang, lalu Kabupaten Kediri sebanyak 5 orang, dan Kabupaten Banyuwangi sebanyak 4 orang.

Melihat kondisi ini, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur melakukan sejumlah upaya pemantauan turun ke masyarakat dengan melibatkan lintas sektor, tokoh masyarakat terhadap pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dinkes Jatim tak henti memberikan imbauan hingga ke rumah tangga untuk secara mandiri melakukan PSN secara rutin, serentak, bermutu dan berkesinambungan.

"DBD ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit atau menghisap darah orang yang sakit DBD atau yang di dalam darahnya terdapat virus dengue tapi tidak menunjukkan gejala sakit," kata Herlin.

Herlin mengatakan bahwa meski saat ini masyarakat tengah konsen untuk menghindari penularan covid-19, namun yang tak kalah pentingnya juga harus waspada pada penularan DBD.

Virus dengue yang terhisap oleh nyamuk akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk, termasuk kelenjar liurnya. Bila nyamuk tersebut menggigit atau menghisap darah orang lain, virus akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.

Virus dengue akan menyerang sel pembeku darah kecil (kapiler), akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan cairan bahkan bisa mengakibatkan syok.

"Untuk mengendalikan DBD ini, kami tak henti memberikan informasi kepada masyarakat untuk segera merujuk atau membawa ke fasyakes terdekat apabila ada anggota keluarga dengan gejala demam, setelah 2 hari tidak turun panasnya setelah minum obat penurun panas," tegasnya.

Faktor yang mempengaruhi penyebarluasan DBD dikatakan Herlin adalah kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, perilaku masyarakat, dan perubahan iklim (climate change) global.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved