Breaking News:

Smartwealth

Peluang Investasi di Masa New Normal

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di banyak daerah sekaligus dimulainya masa new normal membuat roda ekonomi akan bergeliat

Istimewa
Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya saat memaparkan kondisi market dalam acara Market Oulook Bank Commonwealth beberapa waktu lalu sebelum pandemi Covid-19. Ivan menyebutkan bahwa minat investasi akan mulai kembali dalam jangka waktu menengah. 

SURYA.co.id, Surabaya - Berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di  banyak daerah sekaligus dimulainya masa new normal membuat roda ekonomi akan bergeliat. Sekalipun demikian, dampak positif pemberlakuan new normal belum serta merta dirasakan dalam waktu dekat. 

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan pandemi Covid-19 memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 2,97% (yoy), melambat dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 4,97% (yoy).

Pengaruh Covid-19 terutama pada penurunan permintaan domestik. Program stimulus pemerintah melalui konsumsi pemerintah yang tumbuh 3,74% (yoy) dapat menahan perlambatan permintaan domestik lebih dalam. “Namun, situasi pandemi dan ketidakpastian yang tinggi mengharuskan pemerintah untuk mempersiapkan beberapa skenario perkembangan ekonomi ke depan,” katanya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan berbagai kebijakan menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar keuangan. Antara lain, menurut Ivan, melalui kebijakan buyback saham tanpa melalui RUPS, pelarangan short selling, trading halt 30 menit ketika penurunan IHSG mencapai 5% serta peniadaan perdagangan di sesi pre-opening.

Di sisi lain kita juga perlu mewaspadai dampak global terhadap ekonomi di Indonesia. Itu karena investor asing masih menjadi salah satu pemegang terbesar dari portofolio pasar modal Indonesia. Asing menguasai lebih dari 30% surat berharga negara. Sementara di pasar saham kepemilikan asing sekitar 40%. Sehingga inflow maupun outflow dari investor asing memiliki dampak yang signifikan terhadap pergerakan market yang membuat volatilitas saat ini cukup tinggi.

Khusus di industri keuangan pasar modal, Ivan memaparkan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) industri reksa dana pada bulan Mei 2020 mencapai Rp 496,30 triliun, turun 0,21% dibanding April sebesar Rp 497,35 triliun.  “Kami memerkirakan jumlah pembelian reksa dana belum akan meningkat dalam waktu dekat. Mungkin bisa meningkat di kuartal III 2020 (Juli-September). Namun, minat investasi akan mulai kembali dalam jangka waktu menengah ketika pengembangan vaksin Covid-19 sudah lebih jelas,” tandasnya.

Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana masih optimistis industri reksa dana terus berkembang. Itu melihat tren pertumbuhan jumlah investor baru yang semakin meningkat dan bertambah meleknya masyarakat terhadap produk-produk reksa dana terutama pada kalangan milenial. “Namun, dengan berbagai tekanan sentimen negatif yang masih melanda pasar baik dari domestik maupun eksternal, kami memperkirakan pertumbuhan industri reksa dana hanya single digit di tahun ini,” jelasnya.

Sementara, pertumbuhan NAB reksa dana seperti pasar uang dan pendapatan tetap masih mencatat pertumbuhan tinggi. Melihat hal ini dapat dikatakan bahwa dalam kondisi pasar saat ini, investor cenderung beralih ke reksa dana dengan profil risiko yang konservatif. “Untuk jangka pendek kurang dari satu tahun maka fokus terhadap capital preservation dengan alokasi kas atau reksa dana pasar uang hingga 65% merupakan pilihan paling bijak. Sisanya 25% pada reksa dana pendapatan tetap atau SUN dengan durasi menengah, dan sisanya 10% pada saham blue chip atau reksa dana saham,” ungkapnya.

Sedangkan alokasi yang cukup ideal untuk jangka panjang, menurut Jemmy, adalah 50% pada reksa dana saham atau dapat juga dikombinasikan dengan portofolio saham untuk investor berprofil risiko agresif, 30% pada SUN dengan tenor panjang (lebih dari 7 tahun) atau reksa dana pendapatan tetap, sisanya 20% pada reksa dana pasar uang. “Meski demikian perlu diperhatikan bahwa setiap investor memiliki profil, tujuan, dan jangka waktu investasi yang unik, perubahan alokasi mungkin diperlukan apabila terdapat perubahan pada hal tersebut,” tandasnya.

Terpisah, pengamat ekonomi asal Medan, Gunawan Benjamin mengatakan pandemi Covid-19 membawa pengaruh sangat besar bagi perekonomian termasuk di pasar modal. Menurutnya, belakangan ini pasar keuangan bergerak sangat fluktuatif. “Namun bagi investor yang peka melihat peluang, saat ini justru bisa dimanfaatkan untuk meraup keuntungan,” jelasnya.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, memaparkan IHSG pernah ke level 4.400-an dan sempat di level 5.000 an di pekan kemarin. Rentang waktu pergerakan dari 4.400 ke 5.000 an itu hanya hitungan sepekan.  "Artinya investor bisa saja mendapatkan keuntungan di situ jika mampu memanfaatkan situasi. Namun perlu dicatat risiko penurunannya juga besar. Dimana IHSG saat ini di kisaran 4.800-an, berbalik turun lagi," katanya, Senin (15/6).

Pengamat Ekonomi asal Surabaya, Lutfi, menambahkan pelaksanaan new normal diprediksi membuat recovery ekonomi berjalan lebih cepat.  Apabila para investor berniat menanamkan modal, Lutfi menyebut, beberapa sektor masih bisa menjadi sasaran. Misalnya, dengan reksadana. "Kami menilai obligasi masih cukup aman bagi yang ingin berinvestasi di reksa dana," katanya.  (bob)

Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved