Breaking News:
Grahadi

Pemprov Jatim

Pemprov Jatim dan DPRD Matangkan Konsep Persiapan Menghadapi New Normal

Gubernur Khofifah menyebut, daerah yang bisa melaksanakan new normal bisa dilihat dari peta sebaran yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Pusat.

Humas Pemprov Jatim
Ketua DPRD Jatim, Kusnadi bersama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa dan Wagub Jatim, Emil ELestianto Dardak, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (13/6/2020). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) terus mematangkan konsep new normal. Di mana basis utamanya terletak pada penerapan protokol kesehatan yang ketat yang memiliki tiga indikator di antaranya epidemiologi, sistem kesehatan dan surveilans.

Demikian disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa saat menyampaikan paparannya di hadapan Ketua DPRD dan para Ketua Komisi DPRD Jatim di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (13/6/2020).

Ia mengatakan, jika mengacu pada Rate Of Tranmission (Rt) di Jatim sebenarnya antara tanggal 20 sampai 26 Mei 2020, selama tujuh hari berturut- turut Rt di Jatim sudah di bawah 1. Tetapi tanggal 27 Mei 2020 kembali naik di atas 1.

Indikator lain seperti kesiapan sistem kesehatan yang mencakup, tenaga kesehatan, peralatan dan tempat tidur dihitung dengan kemampuan dalam menangani peningkatan kasus Covid-19 lebih besar 20 persen.

Saat ini, kapasitas tempat tidur isolasi sejumlah 3.115, di mana terdapat pasien yang perlu perawatan sebesar 1.779 kasus positif, 2.375 kasus PDP dan 306 pasien ODP. Sementara terdapat, 1.345 pasien yang dirawat diruang non isolasi dan RS rujukan.

Khofifah juga memaparkan, bahwa terdapat indikator lain menuju new normal yakni peningkatan surveilans. Dari jumlah total lab yang ada harus dilaporkan setiap hari oleh masing masing daerah.

Saat ini, pemeriksaan PCR telah dilakukan sebanyak 36.410 test atau setara dengan 910/1 juta penduduk, sehingga perlu adanya peningkatan kapasitas lab yang ada di Jatim.

Khofifah menyebut, daerah yang bisa melaksanakan new normal bisa dilihat dari peta sebaran yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Pusat.

Lewat peta sebaran inilah bisa diketahui suatu daerah berada di posisi resiko tinggi, sedang atau rendah bahkan sudah tidak terdampak.

Berdasarkan data yang ada, saat ini dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, terdapat 11 daerah beresiko tinggi, 22 daerah beresiko sedang dan 5 daerah beresiko rendah.

Halaman
123
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved