Breaking News:

PPDB Kota Batu

PPDB TK dan SD di Kota Batu Diperpanjang Sampai 13 Juli 2020

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Eny Rachyuningsih mengatakan perpanjangan ini untuk memberikan kesempatan sekolah memenuhi kuota penerimaan murid.

surabaya.tribunnews.com/benni indo
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Eny Rachyuningsih    

Khamim mengatakan persoalan kekurangan penerimaan murid SD di Kota Batu sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Ketimpangan ini terjadi karena lulusan TK tidak sebanding dengan kebutuhan SD. Ia pun mengkhawatirkan kondisi seperti itu bisa berlanjut ke jenjang berikutnya. Maka perlu ada solusi segera.

"Tahun lalu (2019) sejumlah SD juga kekurangan murid, ada yang 11 orang dan 10 orang," katanya.

Sedangkan anggota Komisi C lainnya, Muchamad Chaerul mengatakan kalau penerimaan siswa pada sekolah swasta lebih baik dari negeri. Politisi PKS itu membandingkan daya tampung dan serapan peserta didik baru di SD negeri dan swasta maupun MI se-Kota Batu.

SD negeri dengan daya tampung 2.6731 terealisasi 1.774 atau 67%. SD swasta berdaya tampung 700 terealisasi 596 atau 85%. Dan MI dengan daya tampung 728 terealisasi 611 (84%).

"Secara target SD negeri masih dibawah SD/MI (swasta) yang mencapai 84-85% dari daya tampung yang disediakan," terang dia.

Berdasarkan data jumlah lulusan TK/RA tahun 2020 yang disodorkan Chaerul, ada sebanyak 4.101. Sementara yang telah mendaftar ke SD negeri dan swasta sebanyak 2.981 calon perserta didik baru. Ada selisih sebanyak 1.120 calon peserta didik baru yang tak mendaftar PPDB SD tahun 2020.

Rata-rata pagu yang ditentukan di tiap SD negeri sebanyak 28 bangku. Hanya SDN Pendem 1 dan SDN Pendem 2 yang memenuhi pagu kursi. Bahkan kedua SD negeri tersebut menolak calon peserta didik baru karena melebihi kapasitas.

Menurut Chaerul, dampak pandemi Covid-19 membuat orang tua calon peserta didik baru khawatir mendaftarkan putra-putrinya. Selain itu ketidak pastian permulaan tahun ajaran baru dan minimnya informasi pelaksanaan PPDB juga mempengaruhi orang tua. Banyak yang bingung sehingga telat mendaftarkan sekolah putra-putrinya.

"Sosialisasi kurang efektif. Pihak sekolah mengaku kesulitan melakukan promosi baik secara kelembagaan maupun dari rumah ke rumah karena pembatasan kegiatan di saat pandemi Covid-19 ini," ujar Chaerul.

Penulis: Benni Indo
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved