Breaking News:

Citizen Reporter

Minat Makan Tempe Menurun, Pengusaha Tempe Desa Sepande, Candi, Sidoarjo Resah  

Pengusaha tempe di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo mengeluh karena wabah yang membuat pengunjung pasar sepi.

foto: istimewa
Salah satu pengusaha tempe di RT 6 RW 2 Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Supriyadi menunjukkan tempe hasil usahanya, Senin (11/5/2020). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Pengusaha tempe di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo mengeluh.

Bukan hanya karena minat konsumen selama Ramadan terhadap tempe menurun, melainkan juga karena wabah yang membuat pengunjung pasar sepi.

Covid-19 memberikan dampak signifikan dalam berbagai sektor khususnya perekonomian dan perdagangan.

Salah satu dampak itu dirasakan sejumlah pengusaha tempe di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Hampir 80 persen dari jumlah warga desa itu mencari sumber penghasilan sebagai pengusaha tempe.

Tempe merupakan makanan berbahan dasar kedelai yang kaya akan gizi dan sumber protein. Harganya yang tergolong murah membuat makanan ini banyak digemari masyarakat terutama di Indonesia.

Pandemi telah berdampak pada bahan baku produksi tempe. Wabah ini telah membuat harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe melonjak naik.

"Harga kedelai sebagai bahan baku utama melonjak naik harganya, yang semula Rp 6.500 per kilogram kini menjadi Rp 8.000 per kilogram. Jika hal ini terus terjadi maka usaha kami akan terancam," ujar Supriyadi, salah satu pengusaha tempe di RT 6 RW 2 Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Senin (11/5/2020).

Hal itu tentu berimbas pada pendapatan yang diterima para pengusaha tempe.

Karena tidak seimbang dengan penjualan tempe yang semakin sepi pembeli akibat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar di Sidoarjo. Itu ditambah dengan produksi tempe yang selalu menurun saat Ramadan.

"Biasanya tempe sangat digemari saat puasa karena lebih praktis dan harganya terjangkau, namun saat Ramadan minat masyarakat sangat menurun, karena konsumen lebih memilih makanan yang enak-enak untuk sahur dan buka puasa," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved