Breaking News:

Citizen Reporter

Memanfaatkan Barang Bekas Agar Biaya Pembuatan Hidroponik Lebih Murah

Untuk menekan biaya pembuatan hidroponik yang mahal, barang-barang bekas bisa dimanfaatkan.

ist/citizen reporter
Eko Busono, pegiat hidroponik di Kampung Deles, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Budidaya tanaman secara hidroponik telah dilakukan oleh sebagian warga di RT 04/RW 04, Kampung Deles, Surabaya.

Merespon hal ini, mahasiswa Universitas Katolik Darma Cendika (UKDC), Surabaya, mendukung warga dan mengajak mereka memanfaatkan barang-barang bekas dalam melakukan budidaya tanaman secara hidroponik. Karena yang dipakai adalah barang-barang bekas, maka biaya pembuatan hidroponik yang biasanya mahal, dapat ditekan.

Bahan bekas yang digunakan antara lain botol bekas atau gelas plastik bekas sebagai pengganti net pot, kain flannel dapat diganti dengan menggunakan kain perca atau kain yang sudah tidak dipakai lagi atau menggunakan kain pel yang sudah rusak.

Membuat hidroponik menggunakan bahan bekas semacam ini akan memberikan nilai dari bahan bekas berharga. Jenis-jenis tanaman yang dapat ditanam pada Teknik hidroponik dari bahan bekas antara lain sawi, tomat, cabe, terong, kangkung, selada air, bayam dan lain-lain.

Eko Busono (55), salah satu warga yang yang pernah mengikuti lomba budidaya hidroponik mengapresiasi dukungan mahasiswa. Pria yang sudah cukup lama menggeluti budidaya tanaman secara hidroponk ini mengatakan ada banyak manfaat dalam membudidayakan hidroponik.

“Antara lain membantu membuat lingkungan menjadi asri, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat dan masih banyak lagi. Bahan yang digunakan juga tidak harus menggunakan bahan yang dijual di pasaran atau toko-toko, kita bisa menggunakan bahan yang sudah tidak digunakan lagi atau sampah yang sudah dibuang oleh masyarakat,” ujar Eko Busono.

“Selain mudah didapat bahan-bahan yang digunakan tidak perlu mengeluarkan biaya yang maha,” sambungnya.

Menurut Pak Eko, hidroponik adalah solusi penghijauan di tengah semakin sempitnya lahan yang tersedia di Surabaya. Namun dia mengakui bahwa cara budidaya tanaman ini jauh lebih mahal ketimbang menanam di tanah. Belum lagi, hasil produksi hidroponik belum tentu bisa bersaing di pasaran. Karena itu, apabila memang lahan masih tersedia, menanam secara hidroponik bisa menjadi pilihan kedua.

Penulis : Mahasiswa UKDC Surabaya, Emirensiana Ito dan Immanuela Maria Apriani

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved