Breaking News:

Citizen Reporter

BCL, Bunga Cinta “Lockdown” Ungkapan Siswa SMAN 1 Jombang

Seminggu belajar di rumah membuat sebagian siswa SMAN 1 Jombang mengungkapkan perasaannya dalam puisi.

citizen reporter/Yustiningsih
Situasi yang berbeda dan lingkungan yang berubah diwujudkan dalam puisi oleh siswa SMAN 1 Jombang. 

Jika setiap hari bertemu dengan teman-teman dan guru di sekolah, sejak 16 Maret 2020, suasana berubah. Guru yang sudah bersiap diri dengan segala perlengkapan mengajarnya tiba-tiba bersiap memandu pembelajaran dari rumah. Para siswa yang sudah siap dengan tas dan sepatunya pelan-pelan harus meletakkannya di meja belajarnya kembali di rumah masing-masing.

Semua aktivitas harus di rumah. Bekerja dari rumah. Belajar dari rumah. Beribadah di rumah. Itu juga dialami guru dan siswa SMAN 1 Jombang. Semua dilakukan agar bisa menekan penyebaran virus corona.

Suasana yang berubah dengan cepat itu juga membuat suasana hati berubah. Jika itu dituangkan ke dalam puisi, maka akan muncul banyak kisah. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, penulisan puisi menjadi salah satu tugas siswa. Mendorong siswa untuk mencermati lingkungan dan suasana hati ketika pandemi terjadi, dapat menjadi salah satu amunisi untuk menulis puisi.

Puisi adalah ungkapan hati. Begitulah ungkapan biasa para penyair. Di pekan pertama apa yang dirasakan oleh para siswa saat belajar di rumah? Dalam rangkuman BCL, Bunga Cinta “Lockdown”, Tegar melukiskan perasaannya dalam puisi.

Ia melukiskan bagaimana semuanya tiba-tiba harus berubah. Ransel di pundak harus diturunkan. Sepatu harus dilepas kembali. Bolpoin yang sudah disiapkan untuk menulis harus dirapikan kembali. Semua dihantui dengan kekhawatiran meskipun pada akhirnya Tegar harus memaklumi demi keadaan yang lebih baik.

Hal demikian juga dialami oleh Fatimah Az Zahra. Ia melukiskan perasaannya dengan memandangi bunga yang ada di sekitarnya. Ia merasakan sepertinya bunga tak lagi cerah seperti biasanya.

Menurut Fatimah, bunga yang dilihatnya pagi itu tak seindah biasanya. Seolah ia sedang memaklumi datangnya wabah corona. Namun keadaan duka harus diimbangi dengan dekat kepada Tuhannya. Berdoa menjadi pilihannya agar corona segera berlalu.

Agustin Nur Imaningsih lain lagi. Ia menyadari, situasi pandemi yamg terjadi adalah keadaan nyata yang harus dijalani. Sebagai remaja yang suka bercengkerama dengan teman sebayanya, wajarlah bila ia menunggu-nunggu berita kembali masuk sekolah.

Di saat menunggu kabar ketidakpastian kapan berkumpul kembali dengan teman-temannya, ananda ungkapkan kebahagaiaannya dengan menikmati bunga-bunga yang ada di sekitar rumahnya. Ia berfantasi dengan bunga menjadi surga.

Dari puisi yang ditulis para siswa dapat disimpulkan, di awal musibah corona para siswa terkejut dengan situasi yang harus dihadapi. Mereka kemudian harus meninggalkan semua aktivitas yang telah direncanakan. Ada ketidaknyamanan ketika pembelajaran harus dilakukan di rumah.

Namun, keadaan yang demikian menyadarkan mereka harus kembali kepada Tuhan. Dengan doa dan dengan menikmati keindahan yang ada di sekelilingnya mereka berharap keadaan bisa kembali seperti sedia kala. Rindu tiada terkira berjumpa dengan guru dan teman-temannya.

Yustiningsih
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Jombang
http://ibuguruyustin.blogspot.com/

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved