Berita Gresik

Santriwati Asal Gresik Sabet Gelar Juara II Tilawatil Quran Internasional

Dara berusia 22 tahun ini mengaku gugup saat mengikuti perlombaan secara online ini. Sebab, selama ini dia hanya mengikuti lomba tilawah regional.

surabaya.tribunnews.com/willy abraham
Indana Badiah saat menunjukkan sertifikat terbaik bergengsi terbaik kedua dalam ajang lomba Tilawah Quran tingkat internasional Iqra Network yang berbasis di Amerika Serikat, Senin (1/6/2020).  

SURYA.co.id | GRESIK - Santriwati asal Gresik bernama Indana Badiah (22) membawa nama harum Gresik ke pentas internasional.

Santri asal Desa Sumberejo, Kecamatan Manyar ini menyandang predikat bergengsi terbaik kedua dalam ajang lomba Tilawah Quran tingkat internasional. Ajang tersebut diselenggarakan oleh Iqra Network yang berbasis di Amerika Serikat.

Santriwati Ponpes Nurul Quran Al-Istiqomah Sukorejo Kecamatan Bungah itu dibantu rekan-rekannya saat mengikuti ajang lomba tersebut secara daring. Termasuk pengasuh pondok abah KH. Syaiful Munir. Nasihat dari pengasuh ponpes menjadi pedomannya untuk ikut dalam perlombaan ini.

"Semua nasihatnya saya ikuti. Sederhana namun bermakna. Seperti tetap berjalan kaki dalam berbagai aktivitas dan lawan rasa malas membaca Al-quran," ucapnya, Senin (1/6/2020).

Dara berusia 22 tahun ini mengaku gugup saat mengikuti perlombaan secara online ini. Sebab, selama ini dia hanya mengikuti lomba tilawah di tingkat regional, kini internasional.

"Bedanya pertanyaan lebih banyak dari seorang juri bernama Syekh Muhammad Ashraf," kata dia.

Wanita yang kerap disapa Inda ini menyebut pertanyaan yang dilontarkan oleh juri diantaranya tentang ilmu tajwid, sifatul huruf, tafsir, dan pertanyaan seputar syariat islam lainnya. Semua pertanyaan harus dijawabnya dengan bahasa inggris.

"Tidak ada persiapan khusus, selama pandemi corona ini membuat saya lebih rajin membaca Al-quran," ungkap dara 22 tahun yang juga anggota aktif Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Gresik ini.

Saat mengikuti lomba, semua alat untuk mengikuti lomba secara daring ini bantuan dari rekan-rekannya yang secara sukarela membantu. Seperti kamera, perekam suara hingga paket internet yang dibelinya di konter dekat rumah.

Video sebagai salah satu syarat langsung dikirim pada akhir bulan April. Tanpa memiliki target apapun, ternyata namanya masuk pada babak final pada 28 mei kemarin.

Dia tidak menyangka kemampuannya itu mampu menyisihkan 50 finalis dari berbagai negara.

"Alhamdulilah bisa juara, pesan saya hanya mari belajar bersama. Dengan Murojaah secara terus menerus," tutup santriwati yang bercita-cita menjadi guru ini. 

Penulis: Willy Abraham
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved