Breaking News:

Berita Pamekasan Madura

Alasan Petani di Pamekasan Madura Tak Gairah Tanam Tembakau meski telah Masuk Musim Tanam

Memasuki musim tanam tembakau Madura tahun ini, sejumlah petani tembakau di Pamekasan dihantui kecemasan.

Penulis: Muchsin | Editor: Parmin
surya.co.id/muchsin
Ny Maisaroh, salah seorang petani tembakau di Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Pamekasan, tetap nekat tanam benih tembakau, Senin (1/6/2020). 

SURYA.co.id | PAMEKASAN – Memasuki musim tanam tembakau Madura tahun ini, sejumlah petani tembakau di Pamekasan dihantui kecemasan. Sebagian  petani masih berpikir ulang untuk menanam komuditas yang sudah turun temurun tersebut.

Kecemasan petani tembakau di Pamekasan, lantaran sampai awal Juni 2020 ini, petani belum mendapat gambaran dari gudang pembelian perwakilan pabrik rokok.

Apakah pabrikan itu nanti tetap membeli tembakau petani seperti tahun-tahun sebelumnya atau malah mengurangi pembelian, sehingga petanu khawatir di saat panen, tembakau menumpuk tak terbeli.

Seharusnya, di pertengahan April 2020 lalu, pemerintah sudah melakukan sosialisasi kepada petani tembakau yang tersebar di 13 kecamatan di Pamekasan, menyangkut tanamanan tembakau, berikut berapa ribu ton seluruh kebutuhan pabrik rokok, terhdap tembakau Pamekasan. Namun hingga kini, tak ada kejelasan.

Seperti yang diungkapkan, Ny Maisaroh (35), petani tembakau di Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Pamekasan, yang kini tetap nekat menggarap lahannya walau hasil panennya belum tentu terbeli.

Ia mengerti jika sampai sekarang belum mendengar apakah gudang perwakilan rokok akan membeli atau tidak.

Kepada Tribunjatim.com (grup surya.co.id), Senin (1/6/2020), Ny Maisaroh mulai menanam benih tembakau di lahan seluas 0,5 hektare mengaku nekat menaman, selain saat ini sudah waktunya masuk musim tanam tembakau, juga tak ingin lahannya menganggur tanpa tanaman.

 “Kami sudah sepakat bersama keluarga untuk menami lahan tembakau, namun tidak sebanyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Di antara tanaman tembakau ini nan, kami juga akan tanami jagung. Ini sebagai antisipasi jika nanti tembakau kami tidak terbeli, maka bisa panen jagung,” kata Maisaroh.

Sedang Ketua Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Pamekasan, Samukrah, mengaku cemas petani tembakau yang pesimistis hasil panen tembakaunya nanti akan terbeli.

Karena pemerintah belum memberikan informasi kepada petani baik kelompok kecil atau kelompok besar, berapa banyak kebutuhan pabrikan terhadap tembakau Pamekasan.

Kondisi ini, bisa jadi ada hubungannya dengan pandemi corona yang masih terus berlangsung dan belum diketahui pasti berakhir dan tuntas.

“Memang, sekarang ini sudah memasuk masa tanam tembakau. Namun kami menerima banyak keluhan dari petani, apakah jika menanam tembakau, bila penan tembakaunya terbeli atau tidak. Dan kami idak bisa menjelaskan, karena kami sendiri juga belum memiliki gambaran,” papar Samukrah.

Ditambahkan, jumlah produksi tembakau Pamekasan rata-rata 18.000 ton pertahun. Tapi mengingat kali ini kondisinya beda dan terjadi pandemi corona, maka tidak menutup kemungkinan produksi tembakau Pamekasan turun di bawah 9.000 ton.

Menurut Samukrah, ketika menemui sejumlah petani di beberapa kawasan, di antara petani sudah tidak ada gairan untuk menggarap lahannya.

Bahkan, petani yang memiliki lahan seluas 3 hektare yang setiap tahun ditanami tembakau, kali ini dibiarkan tidak ditanami.

“Petani juga mengeluh dan kebingungan. Kalau tidak ditanami tembakau, pada saat kondisi seperti ini mau ditanami komuditas apa yang bisa menyaingi penghasilan tembakau,” kata Samukrah.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved