Breaking News:

PSBB di Surabaya Raya

PSBB di Surabaya Raya Diperpanjang, Apkrindo Minta Relaksasi Buka 50 Persen

"Kami sudah habis-habisan saat PSBB tahap I diberlakukan. Kalau sekarang dilakukan lagi, tolong pengajuan relaksasi 50 persen diterima," katanya

surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Para pengurus Apkrindo Jatim saat menggelar pertemuan menunggu hasil pengajuan relaksasi buka 50 persen restauran dan kafe dengan protokol kesehatan yang ketat untuk PSBB jilid III mulai Selasa (26/5/2020) hingga 8 Juni mendatang. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemerintah Provinsi (Pemprov Jatim) dengan izin dari Kementerian Kesehatan, kembali menerapkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap III di wilayah Surabaya Raya. Hal ini membuat para pengusaha kafe dan restoran, mengaku mengalami kesulitan dalam menjalankan usahanya.

"Kami sudah habis-habisan saat PSBB tahap I diberlakukan. Kalau sekarang dilakukan lagi, tolong pengajuan relaksasi 50 persen yang kami serahkan pada 11 Mei lalu diterima," kata Tjahjono Haryono , Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Jawa Timur, Sabtu (23/5/2020) lalu.

Saat ini diakui Tjahjono, sektor kafe dan restoran sudah mengalami kinerja yang minus. Mereka juga kehilangan golden moment saat Ramadan dan Lebaran yang biasanya menjadi puncak revenue dari usaha mereka.

"Bahkan kami sudah melakukan penutupan, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) karyawan, dan meminta relaksasi kredit ke perbankan," ungkapnya.

Tak hanya itu, banyak pengusaha yang terpaksa harus menjual harta bendanya untuk mempertahankan karyawannya dengan harapan covid-19 bisa segera diatasi dan sektor usaha tetap berjalan.

"Saya sudah jual mobil. Dan saat ini sedang jual tanah dan rumah. Tapi jual itu juga sulit di tengah kondisi saat ini," kisah Steven Tjan, Wakil Ketua Apkrindo Jatim.

Steven menceritakan, pada Februari 2020 lalu, dirinya masih melakukan perjalanan bisnis di Hongkong untuk mendapatkan investor pengembangan restorannya.

"Bulan Maret kembali ke Indonesia, pandemi mulai ada dan ada gerakan stay at home," ungkapnya.

Penurunan omzet mulai terjadi. Padahal di saat bersamaan, Steven sedang melakukan training terhadap sekitar 50 calon karyawan baru untuk usaha restoran anyarnya.

Dengan rata-rata omzet per bulan mencapai Rp 10 miliar, dengan biaya gaji karyawan Rp 3,5 miliar dan pajak restoran dan kafe Rp 2 miliar, di bulan Maret Steven mulai terpuruk.

Halaman
123
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved