Berita Surabaya

Tak Bisa Pulang Kampung, Mahasiswa Rantau di Surabaya Lepas Rindu dengan Bingkisan Lebaran

Sejumlah mahasiswa Intitut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) yang harus tinggal di asrama kampus sejak pandemi virus Corona atau Covid-19.

SURYA.CO.ID/Sulvi Sofiana
Mahasiswa Intitut Teknologi 10 Nopember (ITS) yang tinggal di asrama kampus sejak pandemi Covid-19 menerima bantuan bingkisan lebaran dari YMI ITS, Sabtu (23/5/2020). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Nuansa lebaran di kampung halaman pastinya sangat dirindukan di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya.

Hal ini juga dirasakan sejumlah mahasiswa Intitut Teknologi 10 Nopember Surabaya  (ITS) yang harus tinggal di asrama kampus sejak pandemi virus Corona atau Covid-19.

Untuk mengurangi kerinduan para mahasiswa rantau ini, Yayasan Manarul Ilmi (YMI) ITS berbagi bingkisan lebaran berisi roti, susu hingga uang tunai untuk membeli pulsa.

Ketua YMI ITS, Tryanto mengungkapkan kegiatan YMI dalam memberikan bingkisan lebaran pada mahasiswa ITS yang berada di asrama, karena saat ini masih banyak mahasiswa ITS yang tidak bisa pulang karena dampak PSBB.

"Ada yang memang nggak boleh pulang sama keluarganya, takut tertular atau menulari. Tidak cuma warga daerah, banyak juga mahasiswa asing di sini," ujarnya ditemui di sela pembagian bingkisan, Sabtu (23/5/2020).

Bantuan ini diharapkan bisa menjadi obat rindu para mahsiswa pada keluarganya di rumah. Dengan makanan yang layak dan pulsa untuk melakukan video call pada keluarga.

"Biasanya menikmati kue lebaran dan makanan lebaran bersama orang tua. Kami berinisiatif menggantikan orang tua adik-adik dengan memberikan bingkisan lebaran ini," urainya.

Try mengungkapkan, meskipun tidak sempurna, setidaknya bantuan ini bisa menghibur mahasiswa saat lebaran di perantauan.

"Kali ini kami bagikan 100 paket yang kami bagikan untuk mahasiswa dan penjaga asrama," pungkasnya.

Ungkapan terim kasih disampaikan oleh salah satu mahasiswa yang berada di asrama, Anisa Amalia Nur Ibrahim. Mahasiswa Teknik Industri semester dua ini memilih tinggal di asrama setelah menyelesaikan ujiannya.

"Awalnya tinggal di asrama nungu ujian selesai. Tapi ternyata ada PSBB, sama keluarga juga tidak boleh pulang demi keamanan. Padahal hanya 1 jam perjalanan pulang," ujar warga Gresik ini.

Anisa berencana melakukan video call bersama keluarganya usai salat Ied. Dengan bantuan biaya pulsa, ia mengaku terbantu.

Pasalnya ia sudah menghabiskan banyak paket data internet untuk kuliah daring.

Sementara itu, Maryam Asghari mahasiswa asal Afganistan mengaku suasana lebaran di negaranya memang dirindukan. Tetapi pandemi yang melanda negaranya juga membuat aktivitas keluarganya juga terbatas.

"Keluarga juga masih di rumah karena masa pandemic. Untuk belanja juga hanya brother yang keluar. Saya dan keluarga senang ada yang memperhatikan kami sebagai mahasiswa di asrama," ujar mahasiswa pasca sarjana yang masih dalam tahap pembelajaran bahasa Indonesia ini.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved