Berita Surabaya

Rayakan Lebaran di Tengah Keprihatinan, PDIP Surabaya: Tetap Saling Memaafkan Meski Tak Bersalaman

Lebaran di tengah pandemi ini diharapkan bisa memperkuat gotong-royong nasional dalam balutan silaturahmi antar warga.

SURYA.co.id/Nuraini Faiq
Ketua DPC PDIP Surabaya, Adi Sutarwijono. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Meski tidak bersalaman, namun tetap bisa saling memaafkan. Semua bisa saling merayakan lebaran meski dalam situasi pandemi virus Corona atau Covid-19.

DPC PDIP Kota Surabaya mengajak masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri penuh syukur di tengah keprihatinan.

"Keluarga besar PDIP mengucapkan selamat Idul Fitri mohon maaf lahir batin. Mari terus menguatkan semangat gotong royong untuk menghadapi pandemi Covid-19," kata Ketua DPC PDIP Surabaya, Adi Sutarwijono, Sabtu (23/5/2020).

PDIP Surabaya juga mengajak warga untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan di tengah situasi pandemi.

Adi yang juga ketua DPRD Kota Surabaya menyadari, bahwa situasi pandemi menjadikan Lebaran tahun ini berbeda. Imbauan agar warga tetap di rumah, warga juga tidak bisa menggelar halalbihalal yang mengumpulkan banyak orang. Warga kota juga tidak boleh pulang kampung.

"Kita bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan tidak saling berjumpa fisik dan tidak bersalaman. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi, kita saling bermaaf-maafan. Kita tidak bersalaman, tapi sudah memaafkan,” kata Adi.

Lebaran di tengah pandemi ini diharapkan bisa memperkuat gotong-royong nasional dalam balutan silaturahmi antar warga.

Memperkuat kohesivitas sosial harus diwujudkan dalam kerja gotong royong agar pandemi ini bisa dilalui.

Ambil tanggung jawab sesuai bidang masing-masing. Warga harus disiplin menerapkan protokol kesehatan, mulai cuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan orang, mengonsumsi gizi seimbang dan rajin olahraga.

Adi teringat istilah halalbihalal pertama diperkenalkan Presiden Sukarno dan KH Wahab Chasbullah.

Bung Karno meminta pendapat Kiai Wahab terkait situasi bangsa ketika itu, di awal kemerdekaan, yang penuh gejolak.

Antar-elemen ketika itu terpecah. Sehingga oleh Bung Karno, momentum Lebaran digunakan untuk membangun persaudaraan nasional.

"Maka muncullah istilah halalbihalal, saling memaafkan dan saling menghalalkan. Maka dalam konteks saat ini, Lebaran menjadi tradisi yang menyatukan. Kita saling memaafkan, lupakan semua perbedaan dan kita perkuat kerja-kerja untuk menangani Covid-19 serta memulihkan kualitas kehidupan rakyat,” kata Adi.

Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved