Berita Surabaya

Rayakan Idul Fitri di Tengah Pandemi Covid-19, PDIP Surabaya: Tak Bersalaman Tapi Saling Memaafkan

DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mengajak masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri dengan semangat gotong royong menghadapi pandemi virus Corona

SURYAOnline/Sugiharto
Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono. 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya mengajak masyarakat Kota Pahlawan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah dengan penuh syukur dan semangat gotong royong menghadapi pandemi virus Corona atau Covid-19.

Ketua DPC PDIP Kota Surabaya, Adi Sutarwijono mengajak warga untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Adi melihat, Hari Raya Idul Fitri tahun ini dirayakan dengan cara berbeda dibanding tahun lalu seiring adanya imbauan agar warga tetap di rumah dan tidak menggelar halalbihalal yang mengumpulkan banyak orang, serta tidak pulang kampung atau bepergian ke luar kota.

”Kita bersilaturahmi dan saling memaafkan dengan tidak saling berjumpa fisik dan tidak bersalaman. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi, kita saling bermaaf-maafan. Kita tidak bersalaman, tapi hati pasti saling memaafkan. Kita perkuat tali silaturahmi dengan cara yang lain,” kata Adi, Sabtu (23/5/2020).

Adi menambahkan, Hari Raya Idul Fitri tahun ini juga diharapkan bisa memperkuat gotong royong nasional dalam balutan silaturahmi antar warga.

”Silaturahmi untuk memperkuat kohesivitas sosial harus diwujudkan dalam kerja gotong royong agar Surabaya dan Indonesia bisa melewati masa pandemi ini dengan baik,” papar Adi.

Gotong royong yang dimaksud Adi adalah bisa mengambil tanggung jawab sesuai bidang masing-masing.

Adi mencontohkan warga yang bisa mengambil tanggung jawab dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan, mulai cuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan orang, mengonsumsi gizi seimbang dan rajin olahraga.

Lebih lanjut, Adi menyinggung sejarah ”halalbihalal” yang diperkenalkan oleh Presiden Sukarno dan KH Wahab Chasbullah.

Bung Karno meminta pendapat Kiai Wahab terkait situasi bangsa ketika itu, di awal kemerdekaan, yang penuh gejolak.

Antar-elemen ketika itu terpecah. Sehingga oleh Bung Karno, momentum Lebaran digunakan untuk membangun persaudaraan nasional.

"Maka muncullah istilah halalbihalal, saling memaafkan dan saling menghalalkan. Maka dalam konteks saat ini, Lebaran menjadi tradisi yang menyatukan. Kita saling memaafkan, lupakan semua perbedaan, dan kita perkuat kerja-kerja untuk menangani Covid-19 serta memulihkan kualitas kehidupan rakyat,” katanya.

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah. Mohon maaf lahir batin atas semua kesalahan, kekhilafan dan kelalaian,” pungkas Adi.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved