Berita Surabaya

Pengurus PSSI Jakut, Dedik A Manik Terlibat Sindikat Narkotika Antarnegara, Bosnya di Malaysia

Dedik A Manik awalnya dikenalkan temannya dengan bos besar narkotika di Malaysia. Bos besar dari negeri Jiran itu mencari koki sabu di Jawa.

Istimewa
Prekusor yang dikirim langsung dari Malaysia oleh bos besar. Tersangka Dedik A. Manik (42) warga Mengkudu Blok M, Jakarta Utara dan Novin Adrian warga (36) warga Dusun Gowok, Kabupaten Kendal, Jateng. 

SURYA.CO.ID I SURABAYA -

Mantan wasit Liga Indonesia, Dedik A Manik yang kini menjabat sebagai Asosiasi Kota (Askot) PSSI Jakarta Utara diduga kuat terlibat sindikat narkotika antarnegara. Tengara itu terkuak karena sabu cair (prekusor) itu didatangkan langsung dari Malaysia.

Untuk mendatangkan prekusor, Dedik A Manik warga Mengkudu Blok M, Jakarta Utara menggunakan jasa kurir internasional. Prekusor tersebut dikemas menggunakan kaleng oli merek tertentu kemasan 18 liter.

Setiap kali kirim sebanyak dua kaleng kemasan 18 liter. Pengirimannya sendiri tergantung dari permintaan tersangka. Terkadang sebulan dua kali bahkan lebih. Lokasi pengiriman langsung di kawasan Perumahan Graha Taman Pelangi C3, Semarang, Jateng.

Kepala BNNP Jatim, Brigjend Pol Bambang Priyambadha, menjelaskan tersangka Dedik A Manik awalnya dikenalkan oleh seorang temannya dengan bos besar narkotika di Malaysia. Bahwasannya, bos besar dari negeri Jiran itu mencari koki sabu di Jawa.

Gayung pun bersambut dari perkenalan itu, Dedik mengiyakan. Lantas tersangka Dedik A Manik asal Medan langsung memilih Perumahan Graha Taman Pelangi C3, Semarang, Jateng untuk dipakai memproduksi sabu.

"Ia mulai memproduksi sabu sejak tahun 2019 hingga tertangkap ini," terangnya, Senin (18/5/2020).

Untuk mengelola sabu cair menjadi padat dan siap edar, Dedik A Manik bersama Novin Adrian (36) warga Dusun Gowok, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Peralatan yaglng dipakai sederhana tapi omzetnya mencapai miliaran rupiah.

Dalam pemeriksaan, tersangka Dedik A Manik mengaku sabu yang sudah jadi diedarkan di wilayah Jawa. "Setiap gramnya dijual Rp 1,2 juta," papar Brigjend Bambang.

Sesuai rencana, sabu yang dikirim ke tersangka M Choirun Nasirin alias Cak Imin (31) warga Pagerjowo, Buduran, Sidoarjo dan  Eko Susan Indarto (40) warga Pucangro, Lamongan cuma 150 gram. Sisanya seberat 5 kg lebih akan dikirim ke wilayah Madura.

Halaman
123
Penulis: Firman Rachmanudin
Editor: Anas Miftakhudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved