Breaking News:

Virus Corona di Trenggalek

Pemkab Trenggalek Tak Izinkan Salat Idul Fitri di Masjid Agung, Alun-alun, dan Lapangan Aset Pemda

Pemerintah Kabupaten Trenggalek tidak mengizinkan penggunaan Masjid Agung, Alun-alun, dan semua lapangan aset milik pemkab untuk menggelar salat idul

Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Masjid Agung Baitur Rahman di Kabupaten Trenggalek. Sesuai instruksi Pemkab Trenggalek, tahun ini masjid agung tersebut tidak diperbolehkan untuk salat Idul Fitri demi mencegah penyebaran Covid-19 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Pemerintah Kabupaten Trenggalek tidak mengizinkan penggunaan Masjid Agung, Alun-alun, dan semua lapangan aset milik pemkab untuk menggelar salat idul Fitri.

Larangan salat idul fitri di tempat-tempat itu dikeluarkan untuk meminimalisir penyebaran virus corona atau covid-19.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan tak diizinkannya lokasi-lokasi itu untuk menggelar salat id karena takmir tidak akan mampu mengontrol pendatang yang ikut berjamaah.

Para pendatang berpotensi menjadi penyebar virus ke yang lain karena lima kasus positif di Trenggalek berasal dari transmisi luar kabupaten.

“Silakan salat id dilakukan di lingkungan kecil atau dengan anggota keluarga sesuai imbauan MUI (Majelis Ulama Indonesia),” kata Mas Ipin, sapaan akrab Bupati.

Mas Ipin mengajak warga untuk menggemakan takbir dari rumah masing-masing di malam Lebaran. Ia juga meminta rasa syukur menyambut Hari Kemenangan itu dijalankan dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Pemkab Trenggalek juga mengajak warga untuk bersilaturahmi secara visual. Mas Ipin memastikan, pejabat dan pegawai pemkab tidak akan menggelar open house saat Lebaran. Sesuai anjuran pemerintah pusat.

“Kami berharap seluruh masyarakat juga mematuhi dengan saling memaafkan dan mendoakan. Sesungguhnya, doa kita kepada saudara kita sebangsa dan setanah air adalah puncak silaturahmi yang tertinggi,” ujarnya.

Pemkab Trenggalek kembali meminta kepada warga di luar kota untuk tidak mudik.

“Jangan meremehkan perjalanan dari daerah satu ke daerah lain. Khususnya daerah dengan peningkatan kasus yang tinggi, yang saat ini menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar),” sambungnya.

Sementara untuk tingkat desa ke bawah, ia meminta penjagaan wilayah ditingkatkan. Ini untuk memastikan semua pendatang mengisolasi diri di rumah. Juga untuk memantau kedatangan seluruh pendatang.

“Di tingkat itu juga melakukan penyekatan dan penghalauan orang yang tidak dikenal. Khususnya memasuki masa Hari Raya Idul Fitri sampai Kupatan. Karena bisa menjadi risiko berkumpulnya orang dan tertular penyakit,” pungkas Mas Ipin.

Cuti Bersama Ditiadakan, Pemkot Blitar Larang ASN Mudik Lebaran

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved