UPDATE Virus Corona di Surabaya & Jatim 15 Mei Rungkut Terbanyak 104 Kasus, Sidoarjo Siapkan Hotel
Menurut pantauan SURYA.co.id, melalui situs resmi peta penyebaran Virus Corona di Surabaya dan Jatim, masih meningkatan.
Penulis: Pipit Maulidiya | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.CO.ID - Simak update Virus Corona di Surabaya dan Jawa Timur (Jatim), Jumat (15/5/2020) berikut.
Menurut pantauan SURYA.co.id, melalui situs resmi peta penyebaran Virus Corona di Surabaya dan Jatim, masih terjadi tren peningkatan.
Kenaikan jumlah kasus per hari juga masih tinggi. Berikut update Virus Corona selengkapnya.
Virus Corona di Surabaya
Berdasarkan situs pemkot Surabaya, lawancovid-19.surabaya.go.id pada Jumat (15/5/2020) pukul 06.00 WIB, kasus Virus Corona di Surabaya mencapai angka 921 Kasus.
Padahal sebelumnya pada Kamis (14/5/2020) pukul 07.00 WIB terdapat 870 kasus. Artinya ada 51 kasus tambahan dalam sehari.
Kabar baiknya, dari jumlah sebelumnya 6 pasien dinyatakan sembuh Kamis (14/5/2020).
Dari 921 kasus di Surabaya, 698 pasien kini sedang dalam masa perawatan, 121 pasien dinyatakan sembuh, sementara 102 pasien telah dinyatakan meninggal dunia.
Dari jumlah tersebut, Surabaya Timur masih menjadi daerah di Surbaya dengan penyebaran kasus Virus Corona tertinggi
Jumlah kasus COVID-19 di Surabaya Timur berjumlah 313 kasus.
Sementara Surabaya Selatan 196 kasus, dan Surabaya Utara 187 kasus.
Surabaya Pusat mencatatkan 132 kasus hingga saat ini, Surabaya Barat masih menjadi daerah dengan jumlah kasus terendah, yaitu 94 kasus.
Kecamatan Rungkut memiliki jumlah kasus tertinggi di Surabaya, yaitu 104 kasus, disusul oleh Krembangan dengan 103 kasus.
Seperti diketahui, Surabaya telah menerapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak tanggal 28 April lalu.
PSBB Surabaya Raya telah diperpanjang hingga tanggal 25 Mei mendatang.
Penerapan status PSBB bisa kembali diperpanjang apabila beberapa indikator keberhasilan yang ada di Permenkes 9 tahun 2020 tak dapat tercapai
Update Virus Corona di Jawa Timur
Melansir data infocovid19.jatimprov.go.id, jumlah kasus di Jawa Timur (Jatim) kembali meningkat tinggi hari ini.
Total kasus Virus Corona di Jatim mencapai angka 1858 kasus.
Dari jumlah tersebut, pasien yang dinyatakan sembuh berjumlah 294 pasien.
Peta penyebaran Virus Corona sampai di 38 kabupaten/kota atau seluruh wilayah di Jawa Timur.
Menyikapi hal ini Pemprov Jatim mengambil langkah penerapan PSBB lagi.
Setelah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, Pemprov Jatim sedang melakukan persiapan untuk melaksanakan PSBB Malang Raya.
Rencananya akan dimulai tanggal 17 Mei 2020.
Sidoarjo Siapkan Hotel untuk Tempat Isolasi Pasien Corona OTG

Sidoarjo berencana memanfaatkan hotel untuk tempat isolasi pasien corona. Namun fasilitas ini bukan untuk semua pasien, melainkan dikhususkan untuk OTG (orang tanpa gejala).
Menurut Wakil Bupati Sidoarjo Nur Ahmad Syaifuddin, pihaknya sudah berbincang dengan manajemen sebuah hotel di Sidoarjo dan sudah disepakati.
"Sudah siap. Namun belum bisa kami sampaikan sekarang, hotel yang mana," ujar Cak Nur, panggilan Nur Ahmad Syaifuddin, Kamis (14/5/2020).
Sekarang ini, pihaknya sedang menyiapkan tenaga medis dan perlengkapan lain untuk merealisasikan rencana tersebut.
Pemanfaatan hotel untuk tempat isolasi pasien Covid-19 di Sidoarjo bukan berarti kapasitas ruang isolasi di rumah sakit kurang. Namun untuk keperluan perawatan OTG.
"Kalau kapasitas ruang isolasi rumah sakit, sekarang Sidoarjo aman. Yang terbaru ada tiga rumah sakit baru. Citra Medika, Rumkital di Juanda, dan RS Pusdik Gasum Porong. Jadi totalnya ada delapan rumah sakit rujukan," urainya.
Dari tiga rumah sakit itu ada tambahan ruang isolasi khusus (RIK) sebanyak 42 ruang dan 46 RIB. Sekarang, total RIK di Sidoarjo mencapai kisaran 200 ruang.
"Yang sedang jadi masalah kan OTG yang positif. Sementara ini ada 18 orang, semuanya isolasi mandiri di rumah. Tapi tetangga dan waega sekitar yang khawatir," ujar Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Syaf Satriawarman.
Untuk mengatasi kekhawatiran warga dan mengantisipasi supaya OTG yang positif tidak berkeliaran, kemudian ada ide memanfaatkan hotel untuk mengisolasi mereka.
"Tapi kan tidak mudah. Perlu SOP, tenaga medis, dan sebagainya. Itu yang sekarang sedang disiapkan," ungkap dokter Syaf.
Jika program ini terealisasi, diharapkan tidak ada lagi keluhan dari warga tentang kekhawatiran mereka terhadap pasien di kampungnya. Termasuk potensi pasien keluyuran.