Berita Surabaya

Surat Imbauan PWNU Jatim Terkait Pelaksanaan Salat Idul Fitri, Seperti Ini Isinya

PWNU Jawa Timur mengeluarkan surat imbauan pelaksanaan salat berjamaah dan rangkaian perayaan salat Idul Fitri 2020 di tengah Pandemi Covid-19.

surya/habibur rohman
Ilustrasi, jamaah Salat Idul Fitri saat mendengarkan ceramah.PWNU Jawa Timur mengeluarkan surat imbauan pelaksanaan salat berjamaah dan rangkaian perayaan salat Idul Fitri 2020 di tengah Pandemi Covid-19. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setelah Majelis Ulama Indonesia (MU) mengeluarkan fatwa soal pelaksanaan salat Idul Fitri 2020 di saat pandemi Covid-19 atau Corona, kini Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur juga membuat surat imbauan kepada umat muslim.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengeluarkan surat imbauan pelaksanaan salat berjamaah dan rangkaian perayaan salat Idul Fitri 2020 di tengah Pandemi Covid-19.

Dalam surat bernomor 672/PW/A-II/L/V/2020 tersebut, ada beberapa imbauan dari PWNU Jatim yang ditujukan kepada Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jatim.

"Keputusan ini adalah hasil rapat gabungan Harian Syuriyah-Tanfidziyah PWNU Jatim pada tanggal 14 Mei 2020," kata Sekretaris PWNU Jatim, Akh Muzakki, Jumat (15/5/2020).

Imbauan tersebut antara lain agar dilaksanakan relaksasi dan atau pemberian kelonggaran terhadap ibadah salat berjamaah yang meliputi salat tarawih, Jumat dan salat Ied termasuk salat Idul Fitri dan Idul Adha dengan penjaminan penegakan protokol kesehatan secara maksimal.

Selain itu, PWNU Jatim juga mengimbau agar kebiasaan rangkaian kegiatan perayaan Idul Fitri sebagai silaturahmi, dalam bentuk berkunjung ke orang tua, keluarga, sanak famili, tokoh agama atau tokoh masyarakat seperti kiai, dibatasi pelaksanaannya dengan beberapa ketentuan.

"Bila tidak sangat mendesak, perlu dan penting tidak perlu dilakukan secara fisik atau bertemu langsung," kata Muzakki.

Dengan kata lain, silaturahmi cukup dilakukan menggunakan telepon atau melalui pesan di handphone.

Namun jika sangat mendesak, bisa dilaksanakan dengan tetap menegakkan protokol kesehatan cuci tangan secara fisik tidak bersentuhan dan tetap menggunakan masker.

Begitu juga dengan halal bihalal yang melibatkan kehadiran fisik banyak orang, sebaiknya tidak adakan. Kecuali dengan tetap menegakkan protokol kesehatan.

Penulis: Sofyan Arif Candra Sakti
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved