Kilas Balik

KRONOLOGI Percobaan Pembunuhan Soekarno Saat Shalat Idul Adha, Jenderal AH Nasution Juga Nyaris Kena

Berikut Kronologi Percobaan Pembunuhan Soekarno Saat Shalat Idul Adha, Jenderal AH Nasution Juga Nyaris Jadi Korban.

(Dok. Kompas/Song)
Ilustrasi Percobaan Pembunuhan Soekarno 

"Dua faktor yang mungkin menyebabkan respons positif dari Indonesia yakni penyataan pemerintah China soal bom itu dan antusiasme Soekarno terhadap bom atom," tulis Cornejo.

Kemajuan China mendorong Indonesia untuk berbalik arah.

Pada 16 Januari 1965, Sukarno meresmikan Pusat Penelitian Nuklir dengan menggunakan reaktor IRI-2000 dari Uni Soviet di Serpong, Tangerang.
Pada 16 Januari 1965, Sukarno meresmikan Pusat Penelitian Nuklir dengan menggunakan reaktor IRI-2000 dari Uni Soviet di Serpong, Tangerang. (Associated Press)

Pada November 1964, Soekarno menyatakan dukungan memanfaatkan pengetahuan atomnya untuk revolusi.

Di waktu yang sama, Direktur Pengadaan Senjata Angkatan Darat Brigjen TNI Hartono bahkan menyatakan Indonesia mampu meledakkan bom atom sendiri.

AS, bahkan Australia, menganggap enteng pernyataan Indonesia.

Pasalnya, reaktor nuklir yang dimiliki Indonesia terlampau kecil.

Meski terikat perjanjian dengan AS, Soekarno juga saat itu menjalin hubungan erat dengan Uni Soviet.

Soviet bersedia membantu Indonesia mengembangkan tenaga nuklirnya.

Pusat Penelitian Nuklir pun mulai didirikan di Serpong pada Januari 1965.

Soekarno juga beralih ke China.

Saat itu, Indonesia bersahabat baik dengan China lewat Poros Jakarta-Peking.

New York Times melaporkan China melatih para insinyur Indonesia.

Pada Februari 1965, Hartono mengumumkan 200 ilmuwan nuklir Indonesia sedang menguji bom atom.

Mereka rencananya akan merilis bom atomnya pada 5 Oktober, bertepatan dengan HUT ABRI

Lembaga Teknologi Atom dinaikkan menjadi setingkat kementerian, berubah nama menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).

"Sudah kehendak Tuhan, Indonesia akan segera memproduksi bom atomnya sendiri," kata Soekarno dalam pidato di Bandung pada 24 Juli 1965.

Alasan Soekarno sangat antusias mengembangkan senjata nuklir dan bom atom yakni pengaruh Barat di Asia Tenggara.

Sukarno saat itu menentang kemerdekaan Malaysia yang disokong oleh penjajahnya, Inggris.

Ia khawatir Malaysia akan dijadikan pangkalan militer oleh Inggris.

"Ganyang Malaysia!" adalah semboyan yang tak henti-hentinya disampaikan Soekarno.

Selain itu, kedatangan tentara AS ke Vietnam, juga mengkhawatirkan Soekarno akan model penjajahan baru atau neokolonialisme.

Namun sebelum bom atom impiannya terwujud, Soekarno didera prahara G30S dan lengser pada 1966.

AS tetap melanjutkan dukungannya bagi Indonesia.

Di bawah Soeharto, tenaga nuklir dikembangkan untuk kepentingan energi.

Mimpi bom atom dan senjata nuklir Indonesia pun terkubur bersama Soekarno.(*)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved