Bisnis

Pengusaha Rental Mobil Menjerit Karena Covid-19. Kredit Juga Jadi Beban

Pandemi Covid-19 memukul telak bisnis rental mobil. Para pengusaha rental mobil pun merana karena hampir tak ada masyarakat yang menggunakan jasanya.

ist
bisnis rental mobil sepi peminat. Beberapa pengusaha rental mobil terpaksa jual aset karena tak ada pemasukan, Minggu (10/5) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pandemi Covid-19 memukul telak bisnis rental mobil. Para pengusaha rental mobil pun merana karena hampir tak ada masyarakat yang menggunakan jasanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah (Asperda) Jatim, Junaedi mengatakan karena sepinya pelanggan, beberapa pengusaha tak mendapat pemasukan. Saat ini, kalau dipresentasekan, hanya ada 5% pelanggan yang menggunakan jasa rental mobil.

"Dampak pandemi Covid-19 ini mencapai 95% bagi pengusaha. Ada pula yang sampai 100%, atau tak mendapat pemasukan sama sekali. Saat ini hanya ada 1 sampai 2 rental mobil yang masih beroperasi," katanya, Minggu (10/5).

Ia menyebut, pengusaha mulai merasakan dampak pandemi Covid-19 sejak awal Maret. Kala itu, beberapa pelanggan yang menyewa mobil mulai membatalkan pesanannya. Hingga Mei, pelanggan yang membatalkan pesanan mencapai lebih seratus orang.

"Pangsa pasar seperti wisatawan ataupun yang reguler sudah meredup. Sekarang, beberapa pengusaha yang masih beroperasi melayani pelanggan dari instansi. Mereka mendapat surat jalan dari dinas, sehingga masih beroperasi," terangnya.

Padahal di kondisi normal, khsusunya saat Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri, pengusaha rental mobil banjir orderan. Hampir seluruh unit mobil ludes disewa pelanggan.

"Saat ini pesanan sepi, biasanya kalau Ramadhan ramai. Omzetnya bisa dua kali lipat atau 200%," terangnya.

Junaedi mengungkapkan, agar bisnis berumur panjang, para pengusaha mulai mengatur strategi. Para pengusaha melakukan efesiensi biaya pengeluaran perusahaan. Selain itu juga, sejumlah karyawan yang berstatus tetap, dirumahkan. Sebagiannya lagi jam kerjanya diberlakukan shift.

Adapula pengusaha yang menjual aset yang telah lunas untuk biaya hidup dan perusahaan. Tak hanya itu, beberapa pengusaha terpaksa meminjam modal ke sejumlah bank.

"Di internal, kami saling menguatkan. Kami mengadakan bakti sosial (baksos) untuk para sopir. Itu dilakukan untuk mengurangi beban mereka," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved