Breaking News:

Citizen Reporter

Sekolah Zaman Belanda Ada di Museum Ganesya, Singosari, Malang

Museum Ganesya di Singosari, Kabupaten Malang menyimpan suasana kelas pada zaman Belanda. Unik dan patut kunjungi.

Sekolah Zaman Belanda Ada di Museum Ganesya, Singosari, Malang
citizen reporter/Oryza Byan
Aneka wayang dari berbagai daerah menjadi salah satu koleksi Museum Ganesya di Singosari, Kabupaten Malang.

Sekilas tidak ada yang menyangka di atas loket pembelian karcis sebuah wahana air di Malang merupakan sebuah museum kebudayaan. Ya, itulah Museum Ganesya yang berlokasi di atas Hawaii Waterpark di Perumahan Graha Kencana Raya Jalan Raya Karanglo, Singosari, Kabupaten Malang. Itu merupakan museum kebudayaan terbesar di Malang Raya

Jalur masuk ke dalam museum pengunjung diberikan dua pilihan, mau lewat tangga biasa atau lewat lift. Saat memasuki lantai pertama museum, pengunjung langsung disuguhi dengan wayang-wayang presiden Indonesia.

Lantai satu untuk memajang artefak peninggalan Majapahit. Artefak itu ditata dengan sangat apik dan sesuai dengan tema yang diusung. Senjata tradisional, aneka tembikar, pataka (lambang legitimasi jabatan), manik-manik, benda perunggu, arca, dan prasasti berada di lantai itu.

Di lantai itu juga terdapat keris terpanjang dengan panjang lebih dari 3 meter. Dekat dengan ruang pajang keris terdapat ruang yang memajang perhiasan perhiasan emas.

Berjalan ke arah berlawanan dari ruangan itu terdapat miniatur candi, rumah penduduk, saung, dan bangunan lain yang terbuat dari tanah liat.

Uniknya, di situ pengunjung dapat melihat celengan dari masa ke masa. Museum Ganesya menyediakan satu ruangan khusus untuk memajang berbagai macam benda yang digunakan oleh anak-anak zaman dulu.

Di ruangan itu ada buku-buku zaman Belanda, sabak untuk menulis, aneka permainan anak, kursi yang digunakan di kelas saat itu, dan masih banyak lagi. Ada juga boneka Unyil asli beserta aksesori pendampingnya.

Perihal adanya ruangan khusus anak anak tempo doeloe itu menurut Tri Djunianto Prabowo, Marketing dan Relation Museum Ganesya, karena ingin memberikan hal baru kepada masyarakat.

“Oleh karena itu, Museum Ganesya akan secara rutin mengganti koleksi, supaya tidak itu-itu saja,” katanya, Selasa (10/3/2020).

Memasuki ruangan itu seperti membuat pengunjung kembali ke masa kakek dan nenek saat masih sekolah. Semua ditata apik sesuai manfaat pada masa itu.

Beranjak ke lantai dua, pengunjung bisa menikmati inti dari museum. Berbagai topeng dan wayang menghiasi dinding di lantai dua ini mulai dari wayang kulit yang dipentaskan secara umum, hingga wayang yang sudah langka seperti wayang panji Malang. Topeng-topeng cukup lengkap juga mulai dari topeng Majapahitan sampai topeng wayang golek Sunda.

Sebagai bagian dari budaya masyarakat, ada juga wayang Potehi, yaitu wayang golek yang mengambil alur cerita Tiongkok. Selain wayang potehi, masih dalam deretan yang sama terdapat wayang golek Walisongo.

Museum buka mulai pukul 10.00 hingga 22.00. Jadi jika ingin mendapatkan pengalaman baru menjelajahi museum pada malam hari bisa berkunjung selepas pukul 19.00.

Pengunjung juga tidak perlu bingung bingung dalam memahami setiap barang yang ada di museum karena akan ada pemandu yang siap sedia menjelaskan. Dengan tiket masuk Rp 40 ribu, informasi yang didapat sangat lengkap.

Oryza Byan
Mahasiswa Sejarah
Universitas Negeri Malang
yoshitsuneminamoto99@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved