Berita Banyuwangi

Era New Normal Pasca-Pandemi, Bupati Banyuwangi Nilai Wisatawan Lebih Memilih Ekowisata

Setelah pandemi Covid-19 berakhir nanti, menurut Bupati Banyuwangi, para wisatawan akan memilih konsep ekowisata. Ini sebabnya.

surabaya.tribunnews.com/haorrahman
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat mengunjungi desa Kluncing di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak wabah Covid-19. Era pasca-pandemi, hampir semua paradigma orang berubah, dan hidup memasuki era yang disebut para ahli sebagai “new normal”.

Untuk menghadapi era new normal, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan banyak yang memprediksi industri pariwisata cukup sulit bangkit pasca-pandemi Covid-19. Namun, Anas optimistis pariwisata akan menjadi industri yang bergeliat lebih cepat.

Anas merujuk pada hasil survei Alvara Research Center secara nasional, di mana berwisata menjadi keinginan mayoritas masyarakat seusai wabah terjadi, yaitu sebesar 21,8 persen. Lalu disusul keinginan untuk bekerja 19 persen dan bersilaturahim dengan keluarga/teman 13,9 persen.

Menurut Anas, dari survei Alvara, wisata tetap menjadi kebutuhan publik pasca-pandemi. Bahkan, jika silaturahim dengan keluarga/teman sebesar 13,9 persen dimasukkan juga dalam klaster berwisata, tentu hasil orang yang ingin berwisata akan jauh lebih besar.

”Karena bersilaturahim kan sebagian memerlukan perjalanan, yang kemudian dikemas wisata kuliner, menikmati seni bersama keluarga, berjalan ke pantai. dan sebagainya. Artinya, industri pariwisata bisa bangkit lebih cepat pasca-pandemi,” ujar Anas, Rabu (6/5/2020).

Di era new normal ke depan, sambung Anas, wisatawan akan lebih menyukai konsep wisata ekoturisme yang memadukan alam dan budaya. Mass-tourism masih akan cenderung dihindari. Banyuwangi, yang sektor pariwisatanya berkembang pesat beberapa tahun terakhir, juga harus siap dengan berbagai skenario pasca-pandemi.

“Itu semua menuntut respons daerah-daerah wisata untuk mengembangkan konsep yang diinginkan wisatawan,” ujarnya. 

Anas juga sempat mengikuti seminar online ”Ngabubirit Pariwisata Nasional” yang diselenggarakan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI). Seminar diikuti Deputi Kemenparekraf Frans Teguh, dosen UGM Prof M. Baiquni, dan Ketua Umum GIPI Didien Djunaedy. Seminar dipandu Ketua Umum DPP Matasa Panca R. Sarungu dan Waketum GIPI David Makes.

Banyuwangi sendiri, terang Anas, bakal mengoptimalkan wisata alam dan budaya yang selama ini telah dikembangkan. Wisata tersebut dinilai cocok dengan perilaku masyarakat yang masih enggan untuk berkumpul dengan banyak orang.

"Kami memprediksi, wisatawan akan lebih memilih wisata jauh dari hiruk-pikuk. Selain itu, untuk mencapai sustainable, kekuatan kita adalah lokalitas, budaya lokal dan karakter lokal. Ini adalah hal yang penting untuk meningkatkan pariwsata nasional," ungkapnya.

Pilihan mengembangkan wisata alam dan kekuatan budaya daerah juga dinilai lebih mudah dibandingkan dengan mass tourism yang lebih mahal dari sisi biaya. Hal ini penting untuk diperhatikan pemerintah daerah, mengingat era awal new normal, kapasitas fiskal pemda dan ekonomi belum sepenuhnya pulih karena pelambatan ekonomi semasa pandemi.

Dia menambahkan, Banyuwangi sedikit beruntung dibanding daerah wisata alternatif lainnya karena infrastruktur dan amenitasnya sudah lengkap, seperti bandara, hotel berbintang dengan ballroom berkapasitas ribuan orang, hingga homestay=homestay. 

”Daerah wisata alternatif lain tentu sedikit kesulitan, karena investasi pemerintah untuk bandara atau swasta untuk bangun hotel berbintang tiga ke atas tidak akan sepesat sebelum pandemi. Itu yang akan kami manfaatkan,” ujar Anas. 

Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved