Virus Corona di Surabaya

12.000 Masker Tak Berizin Dikirim dari China, Cari Momentum Pandemi Covid-19 di Tanah Air

Unit Pidana Ekonomi Satreskrim Polrestabes Surabaya membongkar aktifitas peredaran ribuan masker medis tak berijin.

surya.co.id/firman rachmanudin
Polisi menunjukkan barang bukti yang disita dari para pelaku pengedar masker dan hand sanitizer ilegal, Mapolrestabes Surabaya, Kamis (30/4/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Unit Pidana Ekonomi Satreskrim Polrestabes Surabaya membongkar aktifitas peredaran ribuan masker medis tak berijin.

Selain itu, polisi juga menemukan pengoplos dan produsen hand sanitizer yang tak dilengkapi ijin edar dari BPOM.

"Dua kasus tersebut merupakan kelompok yang berbeda. Satu kami ungkap untuk masker impor tanpa dokumen legal, dan satunya pembuat atau pengoplos hand sanitizer. Keduanya memang mencari momentum mengeruk keuntungan di tengah wabah Covid 19 ini," kata Kanit Pidana Ekonomi, Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Tegus Setiawan, Kamis (30/4/2020).

Terbongkarnya kasus peredaran ilegal masker dan hand sanitizer itu bermula saat polisi mendapat keluhan langka dan mahalnya harga masker serta hand sanitizer di pasaran.

"Kami kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil membongkar tindak lidana tersebut," tambahnya.

Masker kesehatan itu ditemukan sebanyak delapan karton yang berisi total 12.000 buah masker yang diimpor dari China dengan dokumen yang disamarkan.

Para pelaku pengedar masker tak berijin itu antara lain, BHK (29) asal Sidoarjo, SB (43) asal Pasuruan, dan seorang ibu rumah tangga berinisial LLK (39) warga Pasuruan.

Para pelaku ini menjual masker tersebut seharag 225 ribu per boxnya dan berhasil meraup untung dengan omset 90 juta dan 60 juta per dua bulan terkahir.

Sementara itu, untuk produksi hand sanitizer ilegal, polisi menangkap pria berinisial JS (36) warga Sidoarjo dan PP (34) warga Sidoarjo.

"Ttersangka JS ini mengoplos hand sanitizse tanpa merek beli dari Jogja,kemudian dioplos dengan campuran alkohol dan bahan kimia lain tanpa takaran jelas. Tersangka juga membuatnya. Setelah itu dikemas dalam juriken isi 5 liter dan diberi label mereknya. Kemudian dijual ke PP selaku resellernya," terang Teguh.

Dari penjualan itu, pelaku berhasil meraup untung hingga 100 persen dengan harga jual 175 ribu hingga 275 ribu per jurikennya.

Atas perbuatan tersebut, polisi menjerat para tersangka ini dengan pasal pasal 196, pasal 98 pasal 106 UU Kesehatan nomor 36 tahun 2009 permenkes 1189 tahun 2010 ijin produksi alat kesehatan dan PKRT dengan ancaman hukuman 10-15 tahun. 

Penulis: Firman Rachmanudin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved