Breaking News:

Virus Corona di Jatim

DPRD Jatim Minta Pelaksanaan Rapid Test harus Tepat agar Hasilnya Akurat

Warga di Jatim diminta harus memahami cara rapid test yang benar untuk mendapatkan hasil tepat dan akurat.

Editor: Parmin
foto:diskominfo jatim
Anggota DPRD Jatim dr Benjamin Kristianto. 

SURYA.co.id| SURABAYA - Warga di Jatim diminta harus memahami cara rapid test yang benar untuk mendapatkan hasil  tepat dan akurat.

Jika rapid test yang dilakukan di suatu tempat tekniknya tidak tepat, maka hasil rapid test itu false negatif (salah) karena tekniknya yang kurang tepat.

Anggota DPRD Jatim dr Benjamin Kristianto mengatakan di tengah pandemi COVID-19 tidak memungkiri maraknya pemeriksaan rapid test di beberapa tempat. Produk rapid test tersebut diimpor dari mancanegara, salah satunya dari China dan Korea. Tiap produk memiliki kualitas yang berbeda-beda.

"Kalau rapid test yang diimpor dari Cina kualitasnya beragam. Ada yang bagus, tapi ada juga yang tidak. Kalau dari Korea lebih baik, dan tingkat keakuratannya lebih baik," kata Benjamin dikonfirmasi di DPRD Jatim, Senin (27/4/2020).

Benjamin menjelaskan, jika pemeriksaan rapid test kurang tepat, maka nanti hasilnya false negatif. Artinya seseorang yang di rapid test seolah-olah hasilnya negatif, padahal teknik pemeriksaannya yang salah.

"Harus tepat agar akurat. Dampak dari hasil rapid test yang false negatif akan menjadikan seseorang tersebut merasa tidak terinfeksi virus Corona. Seseorang akan merasa percaya diri dan bangga berkumpul dengan orang banyak. Padahal dia justru carrier yang menyebarkan virus ke orang sekitarnya," terangnya.

Benjamin yang juga Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sidoarjo ini menegaskan, seseorang yang merasa hasil rapid test negatif, padahal sebenarnya positif COVID-19, di kemudian hari bisa mendadak merasakan sesak nafas berat dan tak sadarkan diri. Hal inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian.

 "Teknik rapid test yang benar adalah tidak langsung menggunakan darah segar (fresh whole blood). Artinya darah segar yang diambil tidak langsung diteteskan ke alat rapid test. Tetapi pemeriksaan sebaiknya menggunakan serum atau plasma. Mengingat antibodi yang diperiksa itu adalah immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM)," jelasnya.

 "Dilihat dulu, apakah sudah ada Immunoglobulin G/M, antibodi untuk melawan virus. Itu yang diperiksa," lanjut pria yang juga pemilik RS Sheila Medika, Juanda, Sidoarjo tersebut.

Politisi Gerindra ini menjelaskan, IgG dan IgM sebenarnya tidak ada di seluruh darah. Tetapi antibodi ini ada di plasma atau serum tersebut. "Darah itu terdiri dari sel darah dan cairan plasma atau serum. Antibodi itu tidak ada di sel. Tetapi adanya di plasma atau serum," paparnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved