Smartwealth

Belajar dari Pandemi Corona, Dana Darurat Sangat Penting

Dalam merencanakan keuangan, diperlukan pos khusus untuk dana darurat. Dana itu tidak boleh digunakan jika tidak dalam kondisi darurat.

Dok Commonwealth
Dana Darurat Sangat Penting 

SURYA.CO.ID - Dalam merencanakan keuangan, diperlukan pos khusus untuk dana darurat. Dana itu tidak boleh digunakan jika tidak dalam kondisi darurat. Memiliki dana darurat itu penting bagi setiap pribadi, keluarga atau perusahaan, karena akan menjadi “pelampung” ketika risiko-risiko itu terjadi seperti saat pandemi Corona (Covid-19) saat ini.

Hal itulah yang dipahami Ariel Wibisono, pengusaha muda yang juga Ketua Asosiasi Junior Chamber International (JCI) Jawa Timur. Sehingga saat kondisi darurat seperti saat ini, Ariel dan perusahaannya memiliki banyak solusi keuangan. “Kalangan milenial, pengusaha muda, harus mulai familiar pentingnya dana darurat,” kata Ariel yang merupakan Presiden Direktur PT Putra Rajawali Kencana Tbk.

Ia menyarankan dana darurat diinvestasikan dalam bentuk likuid (bersifat cair) mulai deposito, Reksa Dana, obligasi, hingga saham. “Semestinya minimum 60 persen. Sehingga, saat krisis akan selalu siaga," katanya, belum lama ini. Menurutnya, dana investasi sebaiknya bukan diambilkan dari pendapatan tetapi diambilkan dari keuntungan. "Pertimbangannya adalah untuk mengembangkan aset dan menjadi hedge fund atau istilahnya dana cadangan yang bisa dipakai sewaktu-waktu apabila diperlukan saat emergency," kata alumnus Portland State University, Oregon, AS ini.

Sementara itu, Mimien Susanto CI RPP dari MaxiMoney Financial Planning & Consulting menyarankan besar dana darurat untuk lajang adalah tiga kali penghasilan. Untuk yang sudah berkeluarga dan tanpa anak sebaiknya memiliki enam kali penghasilan. Keluarga dengan anak harus menyisihkan dana darurat 9-12 kali penghasilan. Dana darurat bisa diangsur sampai mencapai batas yang dianjurkan. Dana itu dapat diambil, tetapi harus dikembalikan agar jumlahnya tetap sama.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur Sucor Asset Management Jemmy Paul Wawointana menambahkan ada baiknya nasabah dapat memahami bahwa dana investasi dan dana darurat merupakan kantong yang berbeda. Itu karena dana untuk investasi biasanya adalah dana yang memang tidak digunakan dalam jangka waktu tertentu sesuai tujuan investasi, sedangkan dana darurat merupakan dana yang dapat dipakai sewaktu-waktu dan secepat mungkin.

Dana darurat yang ideal, menurutnya, adalah sebesar 3-12 kali pengeluaran bulanan tergantung daripada banyaknya dependan kita. ”Dana darurat ini sebaiknya terkumpul terlebih dahulu sebelum berinvestasi,” katanya

Selain itu Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya memaparkan bahwa dalam mengatur alur keuangan, yang ideal adalah 50% untuk kebutuhan sehari-hari, 20% untuk cicilan, 20% untuk investasi dan 10% untuk dana darurat.

Meski demikian, dengan mempertimbangkan situasi saat ini kami memahami bahwa pengeluaran setiap orang mungkin mengalami kenaikan, untuk itu kami menyarankan ada penyesuaian alur keuangan yaitu 40% untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk cicilan, 10% untuk Investasi dan 20% untuk dana darurat karena kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir.

“Dana darurat sebaiknya ditempatkan pada aset yang likuid agar mudah dan cepat dicairkan namun tetap dapat mengalahkan inflasi agar nilai uang kita tidak berkurang karena tergerus inflasi,” katanya.

Jika ada penurunan pendapatan seperti saat pandemi Corona seperti ini dan ada pengeluaran mendesak yang harus dibayarkan, menurutnya, kita bisa mencairkan dana darurat dari aset yang paling likuid terlebih dahulu. Namun, hanya cairkan sejumlah yang kita butuhkan. “Jangan tergoda untuk mencairkan lebih dari yang kita butuhkan karena kita belum tahu kapan pandemik ini akan berakhir,” jelasnya.

Ia memaparkan, jika generasi sebelumnya sudah berpengalaman mengalami krisis 1998 serta 2008 maka bagi milenial krisis saat ini merupakan pengalaman pertama mereka. Pengalaman ini bisa menyadarkan mereka seberapa pentingnya dana darurat untuk dimiliki.

Ivan kemudian menyarankan dana darurat bisa ditempatkan pada deposito dan Reksa Dana. Reksa Dana merupakan aset yang juga likuid dimana untuk pencairan hanya membutuhkan waktu maksimal 7 hari bursa Reksa Dana memiliki potensi tingkat pengembalian di atas inflasi maupun deposito.

“Di tengah pandemi saat ini, alokasi aset ideal bagi investor dengan profil risiko moderat adalah 10% di Reksa Dana saham, 35% Reksa Dana pendapatan tetap dan 55% di Reksa Dana pasar uang. Sedangkan untuk investor dengan profil risiko agresif idealnya memiliki portofolio yang terdiri dari 60% Reksa Dana saham, 25% Reksa Dana pendapatan tetap dan 15% Reksa Dana pasar uang, dan jangan lupa agar tetap aman Investasi dari rumah saja melalui digital yaitu bisa dari internet atau mobile banking" ungkapnya. (bob/rie/end)

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved