Virus Corona di Surabaya

ITS - Unair Kolaborsi Rancang Robot Sterilisasi Covid-19, Ideal Gantikan Tugas Tenaga Kesehatan

Dalam penerapan pada kasus Covid-19, robot Violeta ini memiliki manfaat mampu mensterilkan ruang isolasi yang telah digunakan.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Anas Miftakhudin
Istimewa
Robot Violeta saat uji coba. 

SURYA.CO.ID I SURABAYA -

Setelah menciptakan robot untuk membantu pelayanan pasien isolasi Covid-19, ITS kembali berkolaborasi dengan Unair melalui Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dengan menghasilkan robot Ultra Violet ITS – Airlangga yang dinamakan Violeta. 

Violeta dirancang untuk memudahkan proses sterilisasi ruangan untuk perawatan pasien Covid-19.

Wakil Rektor IV ITS, Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, menjelaskan ide diciptakannya robot Violeta ini bermula saat beberapa dosen ITS berhasil melakukan riset penggunaan sinar ultraviolet (UV) untuk menghilangkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

Hal ini dirasa sangat ideal jika diterapkan pada robot untuk menggantikan tugas tenaga kesehatan. Tujuannya mengurangi kontak fisik dengan paparan sinar UV karena sangat berbahaya apabila mengenai manusia secara langsung. 

“Robot rancangan ITS ini menggunakan lampu UV yang dikendalikan dari jarak jauh berbasis wireless control. Robot ini efektif digunakan pada jarak satu sampai dua meter terhadap objek dengan membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit untuk melakukan sterilisasi secara sempurna," ujar Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerjasama, dan Hubungan Internasional ini.

Bambang juga mengungkapkan, ITS akan segera mengirimkan robot Violeta setinggi 1,5 meter ini ke RSUA, setelah dilakukan uji mikrobial di laboratorium yang ada di Departemen Biologi ITS.

"Sementara ini ITS memberi satu robot saja kepada RSUA, karena robot ini mobilitasnya sangat cepat dan mudah,” pungkasnya. 

Salah satu tim peneliti Violeta, Endarko MSi PhD, menambahkan secara umum lampu UV yang digunakan robot yang dikendalikan dengan remote control ini memiliki panjang gelombang sebesar 200 – 300 nanometer (nm). 

“Secara praktik dan teori, kisaran panjang gelombang itu dapat membunuh mikroorganisme dengan baik,” tutur ahli Fisika Medis ini.

Dosen Departemen Fisika ITS ini juga menerangkan, lampu UV yang sebesar 30 watt ini lebih aman secara kesehatan daripada menggunakan bahan disenfektan.

Hal ini dikarenakan tidak adanya residu atau sisa bahan kimia yang tertinggal setelah dilakukan proses sterilisasi.  "Tetapi, waktu sterilisasi ruangan harus dalam keadaan kosong,” tegasnya.

Dalam penerapan pada kasus Covid-19, robot Violeta ini memiliki manfaat mampu mensterilkan ruang isolasi yang telah digunakan atau area yang pernah dipakai dalam penanganan Covid-19 dan tanpa melibatkan manusia secara langsung. 

“Jadi, untuk risiko keamanannya juga lebih baik pastinya,” tegas Endarko.

Sementara itu, salah satu programmer tim robot VIOLETA Achmad Zidan Akbar mengatakan, robot yang memiliki berat sebesar 30 kg ini menggunakan platform dasar dari robot sepak bola ITS yang bernama Iris seperti halnya yang digunakan pada robot Raisa sebelumnya. 

Tidak hanya itu, Violeta juga menggunakan inverter untuk mengubah arus searah dari baterai menjadi arus bolak-balik yang nantinya akan menghidupkan lampu UV. 

“Robot ini dapat digunakan selama empat sampai enam jam ketika lampunya dinyalakan,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Informatika angkatan 2018 ini.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved