Berita Gresik

Alasan Ratusan Warga Pulau Bawean Paksa Pulang Kampung Melalui Pelabuhan Gresik

Ratusan warga Kepulauan Bawean itu berbaris tanpa menerapkan physical distancing di Pelabuhan Gresik. Mereka memaksa pulang kampung

Surabaya.Tribunnews.com/Willy Abraham
Alasan Ratusan Warga Pulau Bawean Paksa Pulang Kampung Melalui Pelabuhan Gresik 

SURYA.co.id | GRESIK - Suasana di pelabuhan Gresik ramai didatangi para penumpang kapal Gili Iyang, Jumat (24/6/2020) malam. Mereka memaksa untuk pulang kampung ke Pulau Bawean.

Ratusan warga Kepulauan Bawean itu berbaris tanpa menerapkan physical distancing. Mereka memaksa pulang kampung karena tidak mendapatkan pekerjaan lagi di perantauan.

Selama melakukan antrean tiket di pelabuhan, tidak ada penerapan physical distancing. Semua orang berkerumun tanpa ada jarak. Namun rata-rata mereka tetap menggunakan masker sebagai alat pelindung diri.

Para calon penumpang ini mengantre tiket sejak pukul 17.00 sore. Pihak pelabuhan semula tidak mengizinkan warga Bawean untuk pulang.

Pantauan di lapangan, para penumpang sempat bersitegang dengan petugas. Mereka nekat ingin pulang kampung.

Total ada 115 penumpang yang memaksa pulang.

Karena pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melarang semua warga Indonesia untuk mudik ke kampung halaman.

Namun karena desakan banyak penumpang, akhirnya pihak pelabuhan melunak. Para penumpang diperbolehkan pulang ke kampung halaman asalkan membawa surat sehat dari Puskesmas atau rumah sakit.

Salah satu penumpang, David, mengaku lebih memilih keluar dari pekerjaanya ketimbang bertahan di perantauan. Pandemi Covid-19 membuatnya berpikir dua kali jika tetap tinggal di Surabaya.

Tekadnya sudah bulat, pria berusia 20 tahun ini lebih memilih pulang ke rumahnya di Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean.

"Uang tabungan masih ada, lebih baik di rumah daripada di kos. Belum ada tanda-tanda Corona berhenti daripada tambah parah di perantauan," punganya.

Hal yang sama diungkapkan, Fahrizal, dia sudah tidak memiliki biaya lagi untuk bertahan hidup di Kalimantan. Pandemi Covid-19 membuat tempatnya bekerja memilih melakukan pengurangan jumlah karyawan.

Warga Kecamatan Tambak ini bekerja sebagai kuli bangunan di Kalimantan.

"Sudah kehabisan uang kalau terus di Kalimantan. Lebih baik pulang, saya tidak punya pekerjaan karena ada pengurangan karyawan," tutupnya.

Penulis: Willy Abraham
Editor: Fatkhul Alami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved