Virus Corona di Banyuwangi

Usir Kejenuhan, Tim Medis RSUD Blambangan Ajak Karaoke Pasien Covid-19 di Ruang Isolasi

Pasien yang tadinya terlihat murung, lemas, jadi lebih bersemangat. Yang tadinya hanya tiduran, mau duduk sampai tertawa gembira.

Istimewa
Tangkapan layar video tim medis RSUD Blambangan ajak pasien Covid-19 karaoke. 

SURYA.CO.ID I BANYUWANGI -

Tim medis yang menangani Pasien Dalam Pengasawan (PDP) Covid-19 di ruang isolasi RSUD Blambangan, Banyuwangi terbilang kreatif supaya tidak jenuh.

Petugas tersebut mengajak karaoke bersama. Dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap mengajak para pasien menyanyi dan joget mengikuti irama lagu India.

Meski awalnya malu-malu, para pasien terlihat gembira, dengan ikut bergoyang pelan mengikuti irama musik yang enerjik itu. Para pasien tetap duduk di tempat tidurnya masing-masing, sementara petugas menghampiri satu per satu bed sambil mengajak bernyanyi layaknya musisi di sebuah konser.

"Ingin menghibur pasien agar tidak jenuh, petugas menawarkan mereka untuk karaoke. Lalu salah satu pasien mintanya diputarkan lagu India,” kata dr Roudhotul Ismailya Noor SpPK (spesialis patologi klinik), salah satu dokter dalam tim Covid-19 di RSUD rujukan Banyuwangi, Kamis (23/4/2020).

“Akhirnya permintaan itu kami kabulkan, lagu India sesuai permintaan pasien kami putar lewat Youtube dari ruang sebelah, dan terjadilah apa yang nampak dalam video,” imbuh dokter Emil, sapaan akrabnya.

Dokter Emil mengatakan, jumlah pasien PDP yang berada di ruang isolasi RSUD Blambangan terlihat mulai jenuh karena beberapa di antaranya secara klinis sudah sehat dan telah berada di ruang isolasi selama lebih dari sepekan. 

“Sebelumnya biasanya kami juga memutarkan tausiyah keagamaan untuk memberikan siraman rohani dan memotivasi mereka. Karena selain jenuh, beberapa pasien juga mengalami kondisi psikologi yang tertekan,” terangnya.

Psikolog RSUD Blambangan, Betty Kumala Febriawati membenarkan hal tersebut. Saat pertama kali mendampingi pasien PDP yang diisolasi, selain jenuh, pasien rata-rata dilanda kecemasan. Baik cemas dengan kondisi kesehatan tubuhnya hingga cemas dengan stigma masyarakat terhadap mereka.

“Kami memberikan semangat agar mereka tetap optimistis. Kami dorong agar fokus dulu pada kesehatannya agar imunitas tubuh terdongkrak. Untuk masalah stigma tidak perlu dipikirkan dulu, kami yakinkan jika penyakit ini bukanlah aib dan bisa disembuhkan,” kata alumnus Magister Profesi Psikologi Universitas Airlangga Surabaya itu.

“Beberapa pasien yang tadinya terlihat murung, lemas, jadi lebih bersemangat. Yang tadinya hanya tiduran, jadi mau duduk sampai tertawa gembira selama konseling berlangsung,” ujar Betty yang memberikan konseling dua kali dalam sepekan.

Penulis: Haorrahman
Editor: Anas Miftakhudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved