Citizen Reporter
Tepuk Tangan Pukul 20.00 untuk Tenaga Medis di Prancis
Masyarakat Prancis juga mengalami kelangkaan masker dan penyanitasi tangan. Solidaritas pun muncul untuk membantu sesama.
Solidaritas warga Prancis dalam menghadapi pandemi ditunjukkan dengan aksi tepuk tangan setiap pukul 20.00. Warga Prancis berada di halaman rumah atau balkon apartemen untuk memberikan dukungan kepada paramedic melalui tepuk tangan. Aksi solidaritas pengumpulan dana untuk membantu paramedis juga dilakukan masyarakat Prancis.
KBRI Paris mengayomi WNI yang tersebar di berbagai kota di Prancis melalui Satgas Covid-19 yang terdiri atas PPI Prancis dan pihak KBRI Paris. Mereka mengumpulkan data WNI dan kebutuhan utma.
Dari pengumpulan data yang dihimpun oleh Satgas Covid-19, pada Rabu (1/4/2020), pihak KBRI mendistribusikan langsung bantuan berupa paket kebutuhan logistik, penyanitasi tangan, masker, dan sarung tangan ke beberapa wilayah di Prancis, dan yang tidak terjangkau melalui pos. Bantuan itu dibagikan kepada para pelajar Indonesia dan warga Indonesia yang membutuhkan.
Prancis seperti negara-negara di belahan bumi lainnya memperlakukan lockdown atau menutup total Prancis dengan adanya pandemi Covid-19. Itu diberlakukan pada 17 Maret 2020, setelah adanya pengumuman yang diberikan oleh Presiden Emmanuel Macron pada 16 Maret 2020.
Kepanikan sempat terjadi dengan adanya panic buying yang dilakukan oleh beberapa warga Prancis. Itu hanya terjadi di awal diberlakukannya lockdown. Kelangkaan beberapa produk seperti pasta terjadi di beberapa supermarket. Juga penyanitasi tangan dan masker juga terjadi. Lonjakan permintaan akan masker untuk keperluan warga Prancis tidak bisa dipenuhi.
Semenjak terjadinya penutupan total Prancis, solidaritas warga Prancis tampak nyata. Warga Prancis hanya boleh ke luar hanya untuk berbelanja keperluan sehari-hari, berolahraga, atau untuk keperluan kesehatan, seperti ke apotek atau dokter. Itu pun harus memakai surat khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah dan harus ditandatangani oleh warga yang ke luar.
Aksi solidaritas itu dilakukan pula oleh beberapa WNI yang tinggal di Prancis. Rasa kepedulian akan langkanya masker yang begitu dibutuhkan membuat seorang desainer asal Indonesia, Donna Risky, terketuk hatinya untuk membuat masker.
Donna Risky, yang bertempat tinggal di kota Croissy-sur-Seine membuat masker yang cantik dari kain batik ataupun kain Nusantara yang dibagikan kepada rumah panti jompo, supermarket, juga kepada teman-temannya baik WNI atau warga Prancis. Memperkenalkan Indonesia lewat masker cantik juga salah satu bentuk kepedulian sebagai bagian dari warga Prancis.
Saat mengetahui ada yang memberikan sembako bagi mereka yang mereka membutuhkan di Lamongan lewat media sosialnya, itu menjadi inspirasi kepada seorang WNI yang berdomisili di Paris dengan berinisiatif memberikan sumbangan sembako berisi beras, gula, telor, mi instan, kecap, dan minyak kepada warga daerah Ampel, Surabaya. Ada juga orang dari Jawa Barat yang menggalang lewat grup pengajiannya dan membagikan sembako untuk daerah di Jawa Barat seperti Cidadas, Pada Suka, Kopo, Kiara Condong, dan Gang Warta.
Kepedulian WNI di rantau, walaupun jauh dari Tanah Air, tidak menjadi batasan untuk berbagi rasa cinta dan peduli kepada sesama, baik untuk masyarakat di Indonesia ataupun di Prancis. Kehadiran pemerintah Indonesia melalui KBRI Paris kepada warganya, semua dilakukan atas nama kemanusiaan. Humanity without border.
Helene
Tinggal di Prancis
hyhpj@hotmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/masker-12.jpg)