Citizen Reporter

Senang Mendapat Masker dari Mahasiswa IKIP Widya Darma Surabaya

Masker menjadi barang mahal dan langka. Sebagian orang tidak mampu membeli. Mahasiswa IKIP Widya Darma Surabaya membuat masker kain dan membagikannya.

citizen reporter/Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi
Mahasiswa IKIP Widya Darma Surabaya membagi masker kain buatan mereka kepada yang membutuhkan. 

Meski khawatir dengan penyebaran virus, sebagian warga tidak mengenakan masker karena memang tidak memiliki. Menyaksikan banyak orang yang pekerjaannya rentan dengan penularan virus, tetapi tidak mengenakan penutup hidung dan mulut, membuat Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (Himaptika) IKIP Widya Darma Surabaya tergerak.

Himaptika IKIP Widya Darma berkomunikasi melalui media sosial dan bersepakat untuk membuatkan masker kain. Masker-masker itu dijahit oleh mahasiswa. Mereka berbagi tugas. Ada yang bisa menyediakan kain, menjahit, dan membagikan kepada yang membutuhkan.

Diperlukan waktu seminggu untuk mematangkan rencana hingga masker siap dibagikan, Jumat (10/4/2020). Mahasiswa membagikan masker itu kepada para penarik becak, penyapu jalan, tukang tambal ban, dan warga yang benar-benar membutuhkan dan tidak sanggup membeli masker.

Berbagi pada saat dan dengan cara yang tepat dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika masker tiba-tiba sulit didapat dan jika ada pun harganya melambung tinggi, sebagian masyarakat terpaksa mengabaikan kebutuhan itu. Mereka tidak sanggup berebut masker yang kini menjadi mahal.

Dias Arti Indriyani dan Aisyah Hanah Umi Umaroh membeli kain yang dibutuhkan di pasar. Mereka membuat pola dan menjahit. Sebisa-bisanya mereka bekerja dengan cepat agar masker-masker segera selesai dan bisa dibagikan.

“Kami berharap mereka juga melindungi diri sendiri. Paling tidak dengan menggunakan masker yang kami bagikan. Meskipun aksi ini sederhana, kami ingin membiasakan diri untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” kata Dias.

Membuat masker sangat sederhana. Polanya juga tidak sulit. Dengan mesin jahit, pekerjaan bisa segera selesai. Jika tidak memiliki mesin jahit, itu bukan alasan untuk tidak membuat karena dijahit dengan tangan juga tetap bisa.

Meski melelahkan karena mereka juga harus tetap berkuliah daring dan bekerja seperti biasa, dua mahasiswa itu tetap gembira. Membuat masker tidak dianggap sebagai beban.

“Ah, senang saja membuatnya. Ini kan untuk amal dan membantu orang yang membutuhkan,” tutur Aisyah.

Pembagian masker kain itu dilakukan di wilayah Surabaya barat dan Surabaya selatan. Mahasiswa berbagi lokasi agar lebih banyak yang mendapatkan masker. Pembagian masker dimulai pukul 10.00-12.00. Masyarakat yang mendapatkan masker kain sangat senang dan terkesan dengan kegiatan itu karena bermanfaat bagi mereka.

Jumat menjadi hari istimewa bagi anggota Himaptika IKIP Widya Darma. Setiap Jumat mereka bersepakat untuk berbagi. Biasanya, mereka membuat Etalase Berbagi. Etalase Berbagi merupakan kegiatan membagi nasi dalam kotak untuk para janda kurang mampu, tukang becak, tukang tambal ban, dan masyarakat kurang mampu di sekitar kampus IKIP Widya Darma di Jalan Ketintang Surabaya.

Sejak adanya pandemi, IKIP Widya Darma Surabaya mengadakan perkuliahan daring. Otomatis segala agenda kegiatan Himaptika di lapangan tertunda. Akan tetapi, niat berbagi itu sudah menjadi kebiasaan sehingga mereka tetap menyisihkan dana yang kali ini untuk membuat masker.

“Mudah-mudahan kami bisa menyediakan sembako untuk mereka yang membutuhkan mengingat saat ini banyak orang terpaksa tidak bekerja,” ungkap Dias.

Aisyah juga berharap agar pandemi segera dapat diatasi dan situasi kembali normal. Dengan demikian, semua aktivitas akan berjalan seperti semula termasuk Etalase Berbagi.

Sri Rejeki Puri Wahyu Pramesthi
Dosen Pendidikan Matematika
IKIP Widya Darma Surabaya
purisrpwp@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved