Virus Corona di Tuban

Masuk Zona Merah Covid-19, Bupati Tuban Ancam Bubarkan Kerumunan Lebih dari Lima Orang

Kerumunan atau gerombolan orang dalam jumlah yang tidak sedikit juga akan menjadi atensi untuk dibubarkan.

surya.co.id/m sudarsono
Bupati Tuban, H Fathul Huda bersama jajaran Forkopimda saat konferensi pers di Mapolres, guna menindak lanjuti dua warga Tuban dinyatakan positif corona, Kamis (9/4/2020). 

SURYA.CO.ID, TUBAN - Ditetapkannya Kabupaten Tuban sebagai zona merah atas sebaran virus corona atau covid-19, membuat pemerintahan setempat harus tegas untuk memutus mata rantai.

Sebagaimana dirilis Pemprov Jatim dan dilanjutkan Pemkab Tuban, Rabu (8/4/2020), dua orang tenaga medis perawat dinyatakan suspect corona.

Satu meninggal dunia beberapa hari lalu asal Kecamatan Semanding, yang sebelumnya berstatus pasien dalam pengawasan (PDP).

Kemudian, satu masih dirawat intensif di RSUD Dr Koesma Tuban asal Kecamatan Kota.

Bupati Tuban, H Fathul Huda merespon tegas kondisi zona merah yang menimpa wilayah yang dipimpinnya.

Bahkan, kerumunan atau gerombolan orang dalam jumlah yang tidak sedikit juga akan menjadi atensi untuk dibubarkan.

"Kerumunan lebih dari lima orang akan kita bubarkan," kata Bupati merespon penetapan zona merah bagi Tuban, saat konferensi pers di Mapolres, Kamis (9/4/2020).

Fathul Huda menjelaskan, dengan adanya atensi bagi yang masih suka berkerumun, maka nanti untuk pelaksanaan penertibannya bisa dijalankan oleh Polres bersama Kodim.

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memutus penyebaran virus mematikan tersebut, agar tidak menyebar luas di kalangan masyarakat.

"Lebih dari lima orang kita bubarkan, nanti saya minta Kapolres dan Dandim untuk membantu penertiban. Ini demi Tuban," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Bambang Priyo Utomo menyatakan, pasien corona mempunyai riwayat pernah mengikuti pelatihan tim kesehatan haji indonesia (TKHI) di asrama haji Surabaya, sekitar pertengahan maret lalu.

"Iya betul pernah mengikuti pelatihan TKHI, klaster sukolilo (salah satu kecamatan di surabaya, red). ada 13 orang yang ikut, 7 dari dinkes, 6 dari kemenag, dua yang positif, lainnya hasil rapid tes negatif," tutup Bambang.

Penulis: M. Sudarsono
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved