KRONOLOGI Lengkap Mama Muda Diancam Foto Tanpa Busananya Disebar, Kasus Lain Korbannya Calon Perawat

Seorang mama muda di Solok Selatan, Sumatera Barat, berinisial RR (29), diancam foto tanpa busananya akan disebar. Berikut kronologi lengkapnya

Kolase Tribun Jabar
Foto Ilustrasi Mama Muda Diancam Foto Tanpa Busananya Disebar. 

"Saat itu petugas menangkapnya. Tersangka sempat melarikan diri, namun di Kabupaten Solok berhasil kita tangkap," kata Arvi.

Tersangka dijerat Pasal 27 ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

5. Kasus lain korbannya calon perawat

Di Palembang, Wahyudi (35), pria yang mengaku sebagai salah satu kepala rumah sakit di Palembang ditangkap jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Selatan.

Ia telah melakukan penipuan kepada para calon perawat.

Penangkapan Wahyudi yang tercatat sebagai warga Jalan Mayor Zen, Kelurahan Sei Selayur, Kecamatan Kalidoni, Palembang, tersebut setelah salah satu korban inisial JM membuat laporan ke polisi lantaran menjadi korban penipuan pelaku.

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sumsel, Kompol Adhi Setyawan mengatakan, modus yang digunakan Wahyudi yakni berpura-pura menjadi kepala rumah sakit.

Setelah itu, para korban yang merupakan lulusan sarjana keperawatan diimingi oleh pelaku untuk bekerja di rumah sakit tanpa mengikuti jalur tes.

Akibat tergiur dengan iming-iming tersebut, para korban lebih dulu diminta uang jaminan yang dikirimkan ke rekening pelaku sebesar Rp 500.000.

"Sebelum korban mengirimkan uang, tersangka lebih dulu minta foto tanpa busana korban sebagai persyaratan," kata Adhi, Jumat (6/12/2019).

Setelah mengirimkan foto serta uang, Wahyudi pun menghilang.

Namun, saat korban menayakan kapan bekerja, pelaku langsung mengancam akan menyebar foto milik korban.

"Sehingga, pelaku menggunakan foto itu untuk memeras korban.

Korban mengenal pelaku melalui medsos," ujar dia.

Saat mencari korban, pelaku mengaku sebagai seorang perempuan dan merupakan staf kepala rumah sakit.

Sehingga, para korban akhirnya percaya dan mau mengirimkan foto tanpa busana mereka melalui ponsel.

"Jadi, dia tidak pernah mau ditelepon, hanya chat lewat WhatsApp saja.

Sejauh ini, baru satu korban yang melapor. Kami duga korbannya banyak, karena di handphone-nya banyak ditemukan foto wanita-wanita lain.

Kami imbau yang menjadi korban untuk segera membuat laporan," ujar Adhi.

Selain itu, Ditreskrimsus Polda Sumatera Selatan juga menangkap Bustanul Ardi (31), polisi gadungan yang menipu para wanita untuk melakukan aksi tanpa busana lewat video call WhatsApp (WA).

Tersangka Bustanul Ardi (31) ngaku polisi menipu para gadis lewat video tanpa busana via WhatsApp saat diamankan di Polda Sumsel, Senin (9/12/2019).
Tersangka Bustanul Ardi (31) ngaku polisi menipu para gadis lewat video tanpa busana via WhatsApp saat diamankan di Polda Sumsel, Senin (9/12/2019). (KOMPAS.COM/AJI YK PUTRA)

Perbuatan Bustanul terbongkar setelah salah satu korbannya berinisial IR melapor ke polisi.

Pelaku ditangkap di Lubuklinggau, Minggu (8/12/2019).

Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Sumsel Adhi Setyawan mengatakan, modus yang dilakukan tersangka yakni dengan menyamar sebagai polisi gadungan berpangkat brigadir.

Tersangka lalu membuat akun Facebook bernama Ardi Ardi.

Di sana ia pun mengikuti grup untuk mencari para korban.

Setiap wanita yang memposting status, akan di-like oleh tersangka.

Sehingga korban pun menghubungi Bustanul lewat pesan pribadi.

"Setelah korban chating pribadi, pelaku meminta nomor Whatsapp korban untuk video call," kata Adhi, saat konferensi pers, Senin (9/12/2019).

Dalam percakapan lewat video call, korban dirayu tersangka untuk membuka pakaiannya.

Usai korban menuruti permintaan pelaku, ia pun merekam aksi para wanita itu.

"Video rekaman tersebut digunakan tersangka untuk memeras korban.

Ancamannya akan disebarluaskan jika tidak memberikan sejumlah uang.

Besarannya, sekitar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta," ujar Adhi.

Dari pemeriksaan, para wanita yang menjadi korban pelaku lebih dari satu.

Bahkan, usianya pun beragam, dari gadis sampai wanita berusia sekitar 50 tahun.

"Pelaku mengaku duda, dan bertugas sebagai polisi di Jambi, sehingga para korban mau menuruti permintaannya," ujar Kasubdit.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 27 ayat 1 dan pasal 4 Jo pasal 45 ayat 1 Undang-undan nomor 19 tahun 2016, tentang perubahan UU 11 tahun 2008 tentan informasi dan transaksi elektronik dengan ancaman enam tahun penjara.(*)

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Musahadah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved