Virus Corona di Surabaya
Jurusan Interior Arsitektur Universitas Ciputra Produksi Face Shield untuk Tenaga Medis.
Dosen, mahasiswa, dan alumni jurusan Interior Arsitektur UC memproduksi 750 Face Shield untuk digunakan tenaga medis yang berjuang menangani pasien
Penulis: Zainal Arif | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Universitas Ciputra (UC) kembali melakukan gerakan dalam mendukung tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan APD di rumah sakit.
Dosen, mahasiswa, dan alumni jurusan Interior Arsitektur UC memproduksi 750 Face Shield untuk digunakan tenaga medis yang berjuang menangani pasien covid-19.
Hal tersebut disampaikan oleh Evert Indrawan selaku Dosen Interior Arsitektur UC seusai memproduksi Face Shield di Laboratorium Fabrikasi Digital, Fakultas Industri Kreatif UC, Rabu (8/4/2020).
"Kami taHu bahwa pihak rumah sakit sangat membutuhkan Face Shield ini, selain untuk mendukung tenaga medis juga sebagai media edukasi mahasiswa dan alumni," kata Evert Indrawan.
Face Shield sendiri terbuat dari plastik PVC dan eva foam sebagai perekat di kepala.
"Kami pilih plastik PVC karena ketebalannya, terbilang kaku sehingga mendapat proteksi yang lebih bagus, selain itu apabila jika ada droplet atau cairan yang terciprat ke muka tenaga medis dapat melindungi dan dibersihkan kembali tanpa merubah kualitas kejernihan dari materialnya," jelas Evert.
Plastik PVC yang digunakan mempunyai ukuran 120 x 70 cm, ukuran tersebut cukup untuk dapat dipotong menjadi 6 bagian dalam waktu hanya beberapa detik.
Proses pembuatan mulai dari membuat pola vektor sesuai dengan bentuk face shield yang di rencanakan menggunakan software desain editing.
Setelah itu, dimasukan ke aplikasi bawaan mesin cutting laser yang akan digunakan untuk pemotongan, dan pada mesin pemotongan sendiri menggunakan satuan watt.
"Untuk jenis plastik PVC kami menggunakan 200 watt sampai 300 watt agar dapat terpotong dengan sempurna," kata Evert.
"Bekas potongan atau residu yang ditimbulkan setelah proses pemotongan dapat di bersihkan sehingga bekas potongan terlihat bersih," imbuhnya.
Dan yang terakhir face shield dipasangi karet ban untuk merekatkan ke kepala menggunakan eva foam karena padat tidak berpori.
"Karena pori-porinya yang cenderung rapat maka bahan ini tidak mudah menyerap keringat maupun cairan sehingga tidak menjadi media tumbuh bakteri maupun bibit penyakit lain," ujar Evert.
Hal tersebut ditanggapi oleh salah satu alumni Interior Arsitektur, Stanley Gunawan yang ikut berkontribusi memproduksi face shield.
Dirinya tidak menyangka bahwa alat yang biasa ia gunakan untuk membuat meterial dapat digunakan dibidang medis.
"Kami dulu selalu memakai laboratorium untuk praktik membuat material, akan tetapi kini saya dapat pengalaman menggunakan alat untuk keperluan medis," kata Stanley.
"Dalam memproduksi ada perhitungan, jadi bukan sedar bikin sehingga saat digunakan tidak menimbulkan efek samping yang terlalu jauh juga, intinya ini semua aksi kami untuk membantu tenaga medis," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/universitas-ciputra-buat-face-shield.jpg)