Breaking News:

Berita Banyuwangi

Cara Banyuwangi Bikin Inovasi yang Sejalan dengan Akuntabilitas Keuangan

Inovasi-inovasi yang dilakukan Banyuwangi sejalan dengan akuntabilitas keuangan dan tujuh tahun berturut-turut memperoleh opini WTP

Penulis: Haorrahman | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID/Haorrahman
Rantang Kasih adalah program memberi makanan tiap hari ke masyarakat termiskin yang tidak bisa lagi dibuat produktif karena faktor usia 

Bupati yang juga Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) itu mengatakan, saat ini masyarakat kian pintar dan dewasa. Uang yang berasal dari pajak masyarakat dan diamanatkan pada pemerintah, tidak hanya harus dikelola transparansi dan akuntabilitas namun juga harus berdampak pada perekonomian masyarakat.

WTP itulah yang merupakan salah satu indikator bahwa keuangan daerah telah dikelola dengan benar. Anas menceritakan, berdasarkan pengalamannya selama penilaian WTP, tim audit dari BPK yang datang ke Banyuwangi tidak mau dilayani.

”Pengalaman saya, tim dari BPK usianya masih muda-muda. Saat datang mereka membayar penginapan dan makan sendiri. Bahkan mereka tidak mau ditemui,” kata Anas.

Anas mengatakan di awal pemerintahannya dulu, Banyuwangi juga sering ditemukan temuan-temuan oleh BPK. Misalnya terdapat kelebihan bayar saat pembangunan bandara yang harus dikembalikan, dan lainnya. Seiring berjalannya waktu, Banyuwangi terus belajar dan berbenah.

"Ini menghasilkan pengelolaan keuangan yang efektif dan efisien. Pengendalian internal terus kami dorong, apa yang menjadi catatan dari BPK dari tahun-tahun sebelumnya terus kami perbaiki," kata Anas yang menjabat sejak 2010 tersebut.

Penilaian WTP Murni yang diraih Banyuwangi salah satunya karena Banyuwangi dinilai menerapkan pengendalian internal yang bagus. Dari tahun ke tahun, tingkat penyimpangan atau kesalahan yang material terus menurun.

"Sejumlah regulasi pengelolaan keuangan daerah terus digulirkan pemerintah, seperti setiap tranksasi keuangan harus cashless. Regulasi baru kita berusaha taati, di satu sisi kita juga harus meningkatkan akuntabilitas. Namun tetap harus memperhatikan peningkatan kesejahtreraan masyarakat " kata Anas.

Itulah yang membuat Banyuwangi terus berinovasi untuk menurunkan angka kemiskinan. Sebagai upaya pengentasan kemiskinan, Banyuwangi memetakan wilayah yang masuk zona kemiskinan tinggi.

Festival Kampung Digital. Festival ini memamerkan berbagai kemajuan desa hasil inovasi berbasis digital. Mulai sektor pelayanan publik, pelayanan kesehatan, hingga ekonomi kreatif
Festival Kampung Digital. Festival ini memamerkan berbagai kemajuan desa hasil inovasi berbasis digital. Mulai sektor pelayanan publik, pelayanan kesehatan, hingga ekonomi kreatif (SURYA.CO.ID/Haorrahman)

Setelah itu program pemerintah fokus pada daerah tersebut, lalu dikeroyok hingga kemiskinan di daerah tersebut turun. Ada detail bagaimana membantu masyarakat tidak mampu.

Anas mengatakan, di Banyuwangi terdapat sejumlah program pengentasan kemiskinan, seperti tabungan pelajar, distribusi makanan lansia, kreasi ekonomi di kantong kemiskinan, dan lainnya.

Seperti program ”Kanggo Riko”, yang dalam bahasa setempat berarti ”Untuk Anda”. Program ini fokus memberdayakan ribuan warga miskin di perdesaan agar mandiri secara ekonomi.

Program Kanggo Riko, Banyuwangi memberikan modal usaha pada rumah tangga miskin (RTM) yang sedang merintis usaha atau berniat meningkatkan usahanya sebesar Rp 2,5 juta disesuaikan dengan kebutuhan usaha mereka.

Program ini dilaksanakan di 29 desa, yang anggarannya diambil dari Alokasi Dana Desa (ADD) dari APBD Banyuwangi dan Dana Desa dari APBN.

Selain itu juga ada program Rantang Kasih yang membagikan makanan bergizi tiap hari ke warga miskin lanjut usia.

Rantang Kasih adalah program memberi makanan tiap hari ke masyarakat termiskin yang tidak bisa lagi dibuat produktif karena faktor usia.

Sementara Kanggo Riko ini fokusnya adalah memberdayakan. Sasarannya warga miskin, tapi usia produktif, masih berpeluang diangkat ekonominya.

Dalam program Rantang Kasih, para lansia miskin mendapatkan kiriman rantang makanan siap saji setiap hari secara gratis.

Total ada 3.071 penerima program Rantang Kasih yang dananya berasal dari kolaborasi APBD Banyuwangi, Badan Amil Zakat dan dana desa.

“Sebenarnya simpel saja, ikuti saja arah kebijakan pusat. Presiden Jokowi dulu pernah bilang, ubahlah paradigma keuangan negara. Dari money follows function ke money follows program. Fokus kita apa, itu dana digelontorkan. Bukan dibikin rata semua dinas hanya untuk rutinitas,” ujar Anas.

Hasilnya saat ini, jumlah penduduk miskin Banyuwangi sudah bisa ditekan ke level 7,52 persen, atau setara terdiri atas 121 ribu jiwa (33 ribu kepala keluarga) dari total jumlah penduduk Banyuwangi yang 1,735 juta. Penduduk miskin Banyuwangi sendiri sebelum 2010 mencapai 20 persen lebih.

Selain itu, peningkatan pendapatan daerah juga melonjak 134 persen. Produk domestik bruto juga mengalami kenaikan dari Rp 32 triliun, menjadi Rp 78 triliun. Kemudian pendapatan perkapita rakyat Banyuwangi naik dari Rp 20,8 juta menjadi Rp 48,8 juta.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved