Single Focus

Rahmadhani Anwar, Pemilik Pit-Stop Terapkan Pit-Delivery Sikapi Work From Home (WFH)

Sejak ada imbauan untuk menerapkan social distancing dan phsycal distancing, bisnis kedai kopi (warkop) lesu.

foto: kedai pit stop
Suasana Kedai Pit Stop yang ramai pengunjung sebelum virus Covid-19 merebak. Pit Stop kini membuka layanan antar. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sejak ada imbauan untuk menerapkan social distancing dan phsycal distancing, bisnis kedai kopi (warkop) yang biasa menjadi tempat berkerumun orang ini, lesu. Satu kedai kopi yang terimbas di antaranya, Pit-Stop.

Pendapatan berkurang sejak virus Corona (Covid-19) merebak, membuat pemilik usaha kedai kopi ini harus memutar otak.

Bagaimana sumber uang tetap mengalir, saat masyarakat diimbau menjauhi tempat ramai dan tetap berada di rumah.

Kondisi ini, membuat Direktur Pit-Stop Kopi, Rahmadhani Anwar, menerapkan layanan 'pit-delivery'.

"Layanan antar ini karena banyaknya customer yang mulai beralih ke work from home (WFH), tercetus ide untuk menerapkan layanan 'pit-delivery'. Bahkan, tidak ada biaya alias gratis ongkir untuk radius 5 km dari jarak kedai," kata Dhani sapaan akrab Rahmadhani Anwar, Jumat (3/4/2020).

Pria pemilik lima bisnis kuliner Pit-Stop yang berlokasi di Gresik dan Sidoarjo ini mengaku, hal itu merupakan strategi untuk terus bertahan ditengah merebaknya virus Covid-19.

Pasalnya, kini orang merasa dimanjakan ketika work frok home dapat sembari makan dan minum kopi.

"Keuntungan sebetulnya lebih pada konsumen, kami harus selalu kreatif bagaimanapun kondisinya," ujar pria asal Gresik ini.
Rifki, pelanggan Pit-Stop menganggap, layanan terbaru yang ditawarkan menjadi alternatif menarik, ditengah ketakutan keluar rumah yang disebabkan virus Covid-19.

"Karena saya pencinta kopi, saya butuh kopi saat sedang bekerja menjaga mood saya. Pit-delivery dari Pit-Stop membuat saya dapat menikmati kopi meskipun saya hanya dirumah," kata Rifki, Jumat (3/4).

"Meski sebetulnya lebih enak dinikmati di kedai, tetapi tidak apa-apa ini untuk kesehatan bersama," tandasnya.

Kurangi operasional
Di sisi lain, Dhani mengaku, kedainya tetap mengalami penurunan pengunjung hingga 25 persen.

"Iya tetap menurun karena kebanyakan loyal customer lebih menyukai dine in," ujar pria alumnus IBM 2012 Universitas Ciputra Surabaya ini.

Selain itu, ia mengurangi jam oprasional, yang sebelumnya 24 jam kini menjadi 16 jam.

Hal itu dilakukan sebagai tindakan preventif, selain karyawan juga menerapkan social distancing dan menaati beberapa protokol ketika sedang bekerja.

"Kini kami buka pukul 07.00 WIB hingga tutup 21.00 WIB, ini kami lakukan sebagai tindakan pencegahan, selain menerapkan sosial distancing saat karyawan bekerja," pungkasnya. 

Penulis: Zainal Arif
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved