Virus Corona di Jawa Timur

Puncak Wabah Corona Diprediksi Juli, Jatim Siapkan 2.351 Bed Ruang Isolasi dan Observasi

Badan Intelijen Negara (BIN) memprediksi penyebaran Covid-19 akan mengalami puncaknya pada Juli 2020.

surya.co.id/ahmad zaimul haq
Ruang isolasi penanganan Corona di RSJ Menur yang disiapkan untuk menampung 132 pasien, Selasa (17/3/2020). 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Badan Intelijen Negara (BIN) memprediksi penyebaran Covid-19 akan mengalami puncaknya pada Juli 2020.

Dalam prediksi tersebut disebutkan, penyebaran Covid-19 akan mencapai 106.287 kasus.

Dalam mengantisipasi puncak penyebaran wabah ini, saat ini Jatim sudah melakukan mitigasi bencana non alam covid-19.

Saat ini sudah ada sebanyak 75 rumah sakit rujukan telah disiapkan Pemprov Jatim untuk menampung pasien di 38 Kabupaten/Kota Se-Jawa Timur.

Pemprov juga menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mengantisipasi prediksi tersebut.

“Jumlah RS Rujukan bertambah signifikan dari sebelumnya yang hanya sebanyak 44 RS Rujukan. Namun demikian saya berharap prediksi itu tidak terjadi,” ungkap Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Sabtu (4/4/2020).

Dengan tambahan jumlah rumah sakit rujukan tersebut, kini total ada sebanyak 2.351 bed isolasi yang siap menampung pasien covid-19.

Bed isolasi tersebut terdiri dari 950 ruang observasi, 633 pengembangan ruang isolasi bertekanan negatif, 488 ruang isolasi tanpa tekanan negatif, 224 ruang isolasi tekanan negatif tanpa ventilator, dan sebanyak 56 ruang isolasi negatif dengan ventilator.

“Kalau khusus bed isolasi saja, angkanya terus naik. Kalau dibandingkan tanggal 21 Maret lalu kita total ada 1.613 bed, kemudian tanggal 26 Maret bertambah lagi menjadi 1.875 bed, dan per 2 April total bed isolasi kita ada 2.351 bed. Kalau ditotal jumlah bed isolasi dan bed non isolasi RS rujukan kita saat ini mencapai 13.357 bed dan Insya Allah terus ditambah untuk maksimalisasi mitigasi covid - 19,” ujar Khofifah.

Selain skema penambahan rumah sakit rujukan, Pemprov Jatim juga menyiagakan ribuan tenaga medis.

Kurang lebih dari 75 rumah sakit rujukan tersebut memiliki sebanyak 152 orang dokter paru, 346 dokter penyakit dalam, 209 dokter anestesi dan 1.275 orang dokter umum.

Selain itu, Jawa Timur juga di dukung oleh relawan-relawan mahasiswa tenaga kesehatan saat ini mencapai sebanyak 1.862 orang.

“Kami juga merangkul berbagai organisasi profesi seperti IDI, PDGI, PPNI, IBI, IAI, IAKMI dan tenaga kesehatan lainnya untuk bersama-sama memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya pada pasien dengan Covid-19. Dengan demikian, ke depan terdapat 14.438 orang dokter yang potensial untuk turut serta terjun dalam gotong royong melawan pandemi ini,” terang Khofifah.

Sementara untuk tenaga perawat, Jatim memiliki 33.377 orang perawat yang berpotensi untuk turut bisa di gandeng di Jatim dalam perawatan pasien dengan Covid-19.

“Skema mitigasi ini sebagai bagian dari upaya Pemprov Jatim memberi jaminan rasa aman kepada masyarakat. Saya tetap berharap badai Covid-19 ini bisa segera berakhir dan masyarakat kembali hidup aman dan tenteram. Ikuti anjuran pemerintah, tetap tinggal di rumah dan keluar rumah hanya untuk kepentingan urgen, olah raga yang cukup dan jaga jarak aman serta pola hidup bersih dan sehat,” pungkas Khofifah. (*)

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved