Virus Corona di Pasuruan
Miris Mendengar APD Mulai Langka, Pemilik Butik di Pasuruan Ini Menjadi Pembuat Hazmat
Fais Yunianti menjelaskan, hazmat buatannya ini terbuat dari bahan yang sama sesuai dengan ketentuan dari WHO
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Cak Sur
SURYA.CO.ID, PASURUAN - Di tengah meluasnya penyebaran wabah virus Corona (Covid-19) di Indonesia, Fais Yunianti, salah satu pemilik butik batik dan busana muslim di Bangil Pasuruan mendadak menjadi pembuat Hazmat Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis.
Ditemui di butiknya, Fais mengaku mendadak banting setir ini bukan berarti untuk mencari keuntungan di tengah ramainya pasar penjualan Hazmat yang menjadi salah satu kelengkapan APD yang pasti banyak dicari. Ia mengatakan keputusannya itu murni ini dari dalam hati.
"Saya murni ingin membantu para tenaga medis. Saya kasihan melihat tenaga medis yang kesulitan mendapatkan APD. Mereka ada di barisan paling depan menangani virus ini, tapi mereka kesulitan mendapatkannya," kata Fais, Kamis (2/4/2020).
Dia menjelaskan, hazmat buatannya ini terbuat dari bahan yang sama sesuai dengan ketentuan dari WHO, yakni Spunbond Polypropylene dengan berat 75gsm, waterproof fabric dan tidak dapat dicuci, alias hanya digunakan untuk sekali pakai.
"Ini sesuai dengan yang sudah dianjurkan, memenuhi standarisasi dunia kesehatan. Mudah-mudahan ini bisa membantu pemerintah dalam menyediakan APD untuk tenaga medis," tambah dia.
Fais menerangkan, karena ini semua dibuat bukan karena orientasi untuk mencari keuntungan semata, maka ia pun menjual hazmat ini dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dari harga pasaran.
Per biji, ia menjual hazmat buatannya ini dengan harga Rp 65.000. Ia mengaku tidak ingin memanfaatkan kondisi ini untuk mencari keuntungan yang berlebihan. Sebab, ia ingin ikut membantu dalam memerangi virus ini dengan caranya.
"Yang penting, saya tidak rugi. Sekalipun untung, tidak berlebihan dengan menjual harga per bijinya yang mahal. Ini murni, saya miris melihat berita di media yang APD ini susah dicari, saya tidak tega," jelas Fais.
Ia juga mengaku, baru memulai pembuatan APD ini sejak seminggu terakhir.
Dalam seminggu ini, tambah Fais, sudah banyak pesanan yang datang. Dari pemerintah, dari relawan lainnya. Mulai, Surabaya, Bali, Jakarta dan masih banyak lagi.
"Kami kekurangan tenaga. Ini rencananya, mulai minggu depan saya akan tambah tenaga penjahitnya. Ini seminggu kami ditarget menyelesaikan pesanan 1.000 paket APD ini," jelasnya.
Fais mengaku tetap masih melayani pesanan untuk Lebaran. Biasanya, sebulan menjelang Ramadan, ia disibukkan dengan melayani pesanan untuk Lebaran.
"Karena kami ingin berbuat sosial, ini pesanan Lebaran kami selesaikan lebih awal dan setelah selesai, baru membuat hazmat ini," tambah dia.
Apa Pemerintah Pasuruan sudah menghubunginya? Fais mengaku belum mendapatkan orderan dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Ia mengaku siap jika sewaktu-waktu dihubungi untuk membuatkan APD bagi para medis di Pasuruan.
"Oh belum ada. Semisal diminta, saya siap membuatkannya. Ini kami mendukung tenaga medis, untuk terus berbuat terbaik meredam potensi kematian dari virus ini. Tapi, kami juga harus memberikan bantuan dengan menyediakan APD yang berkualitas dan harga murah," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pembuat-hazmat-di-pasuruan.jpg)