Breaking News:

Virus Corona di Surabaya

Jangan Panik, Menurut Tim Satgas RS Unair Surabaya, Ini yang Harus Dilakukan Saat Positif Covid-19

Isolasi dilakukan dalam waktu 14 hari, karena virus Corona dapat dilemahkan dalam kurun waktu 14 hari

SURYA.co.id/Sulvi Sofiana
(Dari kanan) Dr Alfian Nur Rosyid SpP, Prof Dr Nasronudin SpPD, Prof Dr Muhammad Amin SpP dan Dr Ardian Cahya Laksana spOG 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Meningkatnya jumlah pasien terkonfirmasi positif virus Corona (Covid-19), membuat rumah sakit memprioritaskan perawatan pada pasien positif dengan keluhan kesehatan.

Tim Satgas Corona Rumah sakit Universitas Airlangga (RS Unair) Surabaya, dr Alfian Nur Rosyid SpP menjelaskan ada tiga kondisi pasien positif Covid-19.

Pertama yaitu kondisi sehat, artinya tanpa gejala. Kedua, sakit ringan yaitu demam tidak tinggi, batuk karena kelelahan dan masih bisa beraktivitas. Dan ketiga, sakit berat yaitu demam tinggi, sesak nafas, tidak dapat beraktivitas dan ada penyakit lain.

"Jika hasil positif dan tanpa gejala artinya tubuh dalam kondisi sehat dan mampu melawan virus. Tetapi perlu melakukan isolasi diri agar virus tidak menular pada orang lain, "ujarnya.

Isolasi dilakukan dalam waktu 14 hari, karena virus dapat dilemahkan dalam kurun waktu 14 hari dan selama itu perlu mengkonsumsi makanan sehat.

"Kalau sakit ringan juga perlu isolasi. Tapi tidak perlu panik dan ke rumah sakit, bisa menghubungi hotlite Covid-19 RS Unair di 08871294129," lanjut dr Alfian.

Kemudian, untuk penanganan sementara bisa meminum paracetamol dan tidak mengkonsumsi obat lain kecuali diresepkan dokter.

Konsumsi makanan sehat juga harus terus dilakukan, serta menggunakan masker saat bertemu orang lain. Jika keadaan memburuk bisa menghubungi rumah sakit agar ambulans segera datang.

"Sementara pasien sakit berat membutuhkan penanganan serius dengan prioritas utama. Seperti demam lebih dari 38 derajat celcius, sesak nafas berat, tidak bisa beraktivitas, muntah terus bahkan tidak sadarkan diri, " jelas dr Alfian.

Spesialis Paru ini mengatakan, berdasarkan studi pada 44.672 kasus di China, 80 persen merupakan infeksi ringan. Maka tidak perlu panik dan harus isolasi diri di rumah tidak perlu ke rumah sakit.

"Karena kepikiran berlebihan, lalu datang ke rumah sakit justru beresiko tetular dan membuat tenaga kesehatan kewalahan. Dengan demikian pelayanan tidak bisa fokus pada pasien parah dan kritis," pesannya.

Ia pun mengimbau agar masyarakat tetap berada di rumah dan memberi jarak satu meter setiap berdekatan dengan orang. Serta rajin cuci tangan.

Dengan demikian rantai penyebaran Covid-19 bisa terputus dan memprioritaskan pelayanan rumah sakit untuk pasien kritis, sehingga tidak menambah korban jiwa.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved