Virus Corona di Surabaya

UN 2020 Ditiadakan Imbas Wabah Virus Corona, Kadindik Jatim Sebut Sebetulnya Ini Masa Ujian Terakhir

Menekan penyebaran virus corona, Ujian Nasional tahun 2020 di tingkat SMP maupun SMA resmi ditiadakan

UN 2020 Ditiadakan Imbas Wabah Virus Corona, Kadindik Jatim Sebut Sebetulnya Ini Masa Ujian Terakhir
SURYA.co.id/Tony Hermawan
Kadindik Jatim, Wahid Wahyudi saat ditemui di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jatim, Selasa (24/3/2020). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Ujian Nasional (UN) di tingkat SMP maupun SMA resmi ditiadakan pada tahun 2020 ini. Peniadaan UN tersebut dipilih untuk menekan penyebaran virus corona.

Semalam, Kemendikbud membahas masalah tersebut bersama Komisi X DPR yang berlangsung secara daring.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Jatim, Wahid Wahyudi mengatakan bahwa sebenarnya UN tahun 2020 adalah masa terakhir.

"2021 sudah tidak ada, berarti dengan keadaan pandemi ini peniadaan UN diajukan dari tahun ini," kata Wahid Wahyudi saat berkunjung di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Jatim, Selasa (24/3/2020).

Dengan putusan itu, ia pun menjelaskan teknis pemberlakuan tersebut di Jatim.

"Beberapa waktu yang lalu Gubernur kita menunda UN SMA yang semula tanggal 30 maret menjadi 6 april. Dengan kebijakan baru dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ya kita menyesuaikan, tetapi kami masih menunggu surat resmi untuk menindak lanjuti secara operasional," ucapnya.

Mantan Staf Bappeda ini juga menjelaskan, di Jawa Timur saat ini sudah siap untuk mengatur penilaian kelulusan siswa.

Presentase tersebut didapat dari nilai rapor selama 3 tahun dan ujian sekolah secara tertulis maupun praktek.

"Saya rasa kelulusan sudah selesai tidak ada masalah. Karena kelulusan itu ditentukan dari 6 semester selama 3 tahun, rata-ratanya 60 persen. Kemudian ujian sekolah atau satuan pendidikan ditambah dengan praktek laboratorium nilainya 40% itu sudah cukup menentukan kelulusan," jelas Wahid.

Di kesempatan itu, ia juga menjelaskan manfaat UN. Pertama untuk melihat disparitas mutu pendidikan di masing-masing wilayah, kedua dapat digunakan siswa untuk melanjutkan pendidikan di tingkat perguruan tinggi.

"Jalur ini kan masih berlaku, pendidikan-pendidikan tertentu misalnya akademi militer tahun kemarin melihat dari hasil ini. Maka dari peniadaan ini di tingkat perguruan tinggi mustinya juga harus segera menyesuaikan," ujarnya.

Sementara yang dapat menyesuaikan syarat tersebut adalah Menteri Pendidikan.

"Nunggu hasil dari Menteri Pendidikan ya," katanya.

Saat disinggung proses belajar saat pandemi virus Corona, Wahid menceritakan, tenaga pendidik dan siswa saat ini sedang berada di rumah. Ia memastikan proses pembelajaran secara daring pun berjalan maksimal.

"Alhamdulillah hasil pantauan semua kepala dinas di Jatim semua berjalan dengan baik dan para guru bisa memonitor mana siswa yang tidak online. Jadi untuk siswa yang tidak menjaga kontak dengan guru, pasti langsung dihubungi orang tuanya," pungkasnya.

Penulis: Tony Hermawan
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved