Citizen Reporter

Rokat Tasek Tradisi Wujud Syukur pada Samudera

Wujud syukur nelayan di Sumenep menjadi tradisi yang menarik. Rokat tasek, demikian mereka menyebut petik laut itu.

citizen reporter/Sally Agusta Amalia S
Petik laut (rokat tasek) menjadi tradisi nelayan di Sumenep sebagai wujud syukur. 

Petik laut (rokat tasek) merupakan suatu tradisi bentuk ungkapan rasa syukur para nelayan kepada Tuhan atas panen hasil laut yang melimpah. Tradisi itu juga bermaksud untuk memohon berkah dan keselamatan untuk semua orang yang bekerja di laut terutama para nelayan.

Tradisi ini selalu ada di daerah Sumenep, khususnya masyarakat pesisir. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tanjung Kecamatan Saronggi, Sumenep, Rabu (18/3/2020).

“Ini adalah tradisi turun temurun dari nenek moyang kita untuk mengadakan selametan agar mendapat keberkatan saat mencari rezeki di laut. Setiap tahun rutin diadakan rokat tasek dengan makna syukuran atas hasil laut yang melimpah,” ungkap Riyadi, salah satu nelayan di Desa Tanjung.

Hal yang menarik dari tradisi ini adalah adanya perahu yang dihias (bhitek) dan dibuat khusus untuk kebutuhan melarung sesaji di laut. Sesaji yang dimasukkan ke dalam perahu hias (bhitek) merupakan simbol rasa syukur para nelayan. Sesaji itu berupa kue basah, kue kering, nasi, uang, kepala kambing mentah, anak ayam yang diikat, dan lain-lain.

Perahu nelayan dihias sebagus-bagusnya. Tidak ada batasan berapa jumlah perahu yang akan ikut mengantar bhitek ke tengah laut kemudian ikut arak-arakan selepas pulang.

Rangkaian acara dimulai dengan mengadakan selametan terlebih dulu seperti undangan pengajian dan dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah itu, pelepasan perahu bhitek yang di dalamnya berisi sesajen dan dilepas di tengah laut.

Setelah pelepasan dilanjutkan dengan arak-arakan perahu dari pelabuhan Tanjung ke Asta Sayyid Yusuf Talango. Tujuannya adalah berziarah dan mengadakan tahlilan dan doa bersama selepas pulang dari melarung sesaji. Pelepasan bhitek bergantung pada pasang surutnya air laut.

Pada malam pertama, biasanya diadakan ketoprak “Rukun Karya”. Keesokan harinya, acara dilanjukan dengan tayuban dan malam terakhir dilanjutkan ketoprak lagi. Acara petik laut ini diadakan selama dua hari dua malam dan dilakukan setiap tahun oleh masyarakat Desa Tanjung Kecamatan Saronggi, Sumenep.

Rangkaian acara petik laut menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat setempat. Acara ini biasanya diselenggarakan berdekatan dengan rokat dhesa (selametan desa) sehingga semua masyarakat ikut terlibat didalamnya. Biasanya petik laut diadakan pada bulan tiga setiap tahun.

Sally Agusta Amalia S
Mahasiswa Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
sallyagustaamalia@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved