Citizen Reporter

Ini Cara Menjadi Pembawa Acara Tanpa Gugup

Bukan hanya percaya diri, pembawa acara harus menambah pengetahuan supaya sejalan dengan materi acara. Grogi di depan audiens dapat diredakan.

citizen reporter/Grishiella Patricia Liwang
Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS membuat pelatihan untuk pembawa acara bagi para ibu yang bergabung dalam WKRI. 

Tiga dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Fikom UKWMS) yang bergabung dalam tim abdimas menggelar workshop Public Speaking. Ketiga dosen itu adalah Agatha Winda, Theresia Intan Putri Hartiana, dan Brigitta Revia Sandy Fista.

Mereka membagi ilmu menjadi pembaca acara yang baik untuk semua kalangan. Kali ini, abdimas yang dilakukan bekerja sama dengan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Paroki Salib Suci Tropodo Sidoarjo.

“Abdimas ini dilakukan tidak lain agar memberikan ilmu-ilmu yang berguna bagi seluruh warga Paroki Salib Suci agar mampu membawakan acara dengan baik dan menarik,” ujar Fransisca Dewi Pusaraningrum, Ketua WKRI cabang Paroki Salib Suci Tropodo Sidoarjo.

Workshop yang digelar Minggu (15/3/2020) di Balai Paroki Salib Suci itu berlangsung meriah. Sebanyak 40 peserta memadati ruangan dan tampak serius menerima ilmu dari pembicara.

Tak tanggung-tanggung, pembicara yang hadir pada saat itu ahli di bidang public speaking, yaitu Putjok Rizaldy. Beragam kiat dan tips yang diberikan oleh Putjok yang juga dosen Fikom UKWMS disampaikan dengan cara yang seru.

Putjok menjelaskan hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam membawakan acara.“Pertama, perhatikan penampilan. Bagaimana pun ketika kita tampil di depan umum, hal pertama yang dilihat orang ialah penampilan dari luar. Makanya, pakai baju yang tepat itu penting. Misalnya nih, memakai baju dengan konsep tabrak warna itu boleh, tetapi jangan sampai lewat dari tiga warna. Nanti pusing yang menonton,” jelas Putjok yang disambut gelak tawa peserta.

Selanjutnya, sikap, bahasa, serta wawasan tidak kalah penting bagi pembawa acara. Sikap yang dimaksud ialah bagaimana kontak pembawa acara dengan hadirin mulai dari kontak mata, gaya tubuh, hingga mimik wajah. Sering karena gugup, beberapa pembawa acara terlihat panik dan terkesan kaku.

Mengakali itu, Putjok menyarankan agar terus berlatih dengan menggerakan tangan sesekali. Bahasa yang digunakan sebaiknya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hindari penggunaan dialek yang terlalu kental, terutama untuk acara formal.

“Yang terakhir dan tidak kalah penting ialah pengetahuan. Sebagai pembawa acara, kita harus tahu dong kita membawakan acara apa. Kita harus tahu siapa pembicara pada saat itu, topik pembahasannya apa. Tidak mungkin, kan, saat menjadi pembawa acara yang membahas situasi yang saat ini populer, eh dia tidak tahu apa-apa. Makanya, pengetahuan itu sangat penting,” ujar Putjok.

Para peserta yang telah mendapatkan kiat-kia tmenjadi pembawa acara yang baik pun ditantang untuk mengaplikasikannya dalam praktik. Salah seorang dosen Fikom UKWMS, Ignatius Deddy, didapuk untuk menjadi juri dan pemandu workshop. Sepuluh peserta dipilih untuk berlatih menjadi pembawa acara formal, semiformal, dan nonformal.

Para peserta pun antusias mengikuti arahan dosen yang akrab disapa Pak De itu. Dengan adanya workshop public speaking itu, diharapkan seluruh ilmu dan pelatihan yang diberikan dapat diterapkan dalam acara-acara yang diselenggarakan di Paroki Salib Suci Tropodo Sidoarjo.

Grishiella Patricia Liwang
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
grishiella@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved