Breaking News:

Citizen Reporter

Ingin Tahu Romawi Kuno, Nikmati Saja Puisi Klasik

Dalam puisi klasik, orang dapat belajar banyak tentang situasi yang melatarbelakangi, termasuk kisah masa Romawi. Itu yang dibahas oleh Mario F Lawi.

citizen reporter/Rizka Amalia
Diskusi tentang puisi klasik oleh Bait Kata Library menghadirkan Mario F Lawi, penyair. 

Puisi merupakan karya sastra tertua di dunia. Puisi dianggap sebagai sebuah karya sastra yang indah. Karenanya, puisi biasa digunakan sebagai media berekspresi. Selain itu, puisi juga dapat digunakan untuk menyelamatkan bahasa dan budaya yang berlaku saat itu.

Pada abad I M terdapat penyair yang menghasilkan puisi di Eropa, antara lain di Romawi. Tema-tema tertentu dipilih untuk dituangkan dalam salah satu genre karya itu. Menariknya, puisi yang dibuat dapat dilagukan. Itu menjadi ciri khas puisi klasik di Eropa.

Dalam acara bertema Membincang Asyik Sastra Klasik di Bait Kata Library, Puri Surya Jaya Sidoarjo, semua itu diperbincangkan para penikmat sastra bersama Mario F Lawi, Sabtu (15/3/2020). Turut hadir Ali Aspandi (Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo), F Aziz Manna (penyair), Mashuri (penyair dan penerjemah sastra Jawa), R Amalia (prosais), Hasan Irsyad (cerpenis), serta sejumlah penikmat sastra dalam acara yang diselenggarakan Bait Kata Library dan didukung Dewan Kesenian Sidoarjo.

Mario F Lawi adalah salah satu penyair muda yang berasal dari Kupang, NTT. Ia kerap menerjemahkan karya sastra klasik berbahasa Inggris, Italia, dan Latin. Salah satu contoh karya yang diterjemahkannya adalah puisi seorang penyair Italia yang lahir pada tahun 84 SM.

Penulis berusia 29 tahun itu bercerita bagaimana ia menerjemahkan karya sastra klasik berbahasa Latin. Sejak kecil ia memang sudah menyukai karya sastra berupa puisi. Meski awalnya ia justru mengenal karya sastra dalam bentuk dongeng tradisional terlebih dulu yang saat itu sering ayahnya ceritakan. Kemudian saat SD, ia membacakan puisi Chairil Anwar berjudul ‘Aku’ untuk ujian sekolah.

Semua itu berlanjut hingga akhirnya melanjutkan studi di sekolah seminari. Di sana para pelajarnya akan belajar bahasa Latin. Saat itulah Mario berpikir untuk menerjemahkan karya sastra klasik berbahasa Latin. Ia pun memilih beberapa nama penyair seperti Catullus untuk diterjemahkan puisinya.

“Kalau puisi terjemahan dari bahasa Inggris sudah banyak,” tambahnya.

Mario yang melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma menuturkan, bahasa Latin memiliki banyak peminat dan dipelajari di seluruh dunia meski oleh sebagian orang dianggap telah mati.

Dari karya sastralah seperti puisi Catullus, orang-orang dapat mengenal bahasa Latin dan bagaimana peradaban Romawi Kuno yang saat ini telah jarang diketahui dunia luar. Dari puisi Catullus misalnya, orang-orang dapat mengetahui nama koin Romawi, nama-nama kota yang ada di Romawi, kebiasaan dan cara bergaul orang-orang Romawi Kuno, serta nama-nama dewa yang dikenal pada zaman itu.

Mashuri menyampaikan, karya sastra yang ditulis penyair saat itu mencerminkan situasi dan budaya yang terjadi saat itu. Itu tidak mengherankan karena seperti puisi penyair Romawi, puisi Jawa juga memiliki aturan seperti metrum dengan jumlah tertentu.

Rizka Amalia
Pegiat sastra Sidoarjo
Anggota Dewan Kesenian Sidoarjo
amaliaonwrites@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved