Breaking News:

Berita Tulungagung

Seiring Merebaknya Virus Corona, Eni Kebanjiran Pesanan Masker

merebaknya wabah virus corona membuat Eni, pembuat masker di Tulungagung kebanjiran pesanan.

Penulis: David Yohanes | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Eni Kusrini (40) menunjukkan produk masker buatannya. 

SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Dengan penuh konsentrasi Eni Kusrini (40) memutar mesin jahitnya dan menyelesaikan bentuk masker di tangannya. Sesekali ibu dua anak ini juga mengawasi proses pengepakan masker, sebelum dikirim ke pemesannya.

Warga Dusun Jaranguyang RT 1 RW 6, Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman ini adalah perajin konveksi pembuat masker. Selama ini Eni hanya melayani sebuah pabrik kaca di Sidoarjo serta dua apotek di luar kota. Namun merebaknya wabah virus corona membuat Eni kebanjiran pesanan.

“Kalau pesanan pabrik kontraknya 15.000 masker per bulan, kadang sesekali pabrik minta tambahan 20.000 per bulan. Kalau sekarang sampai nolak pesanan,” ucap Eni, saat ditemui di rumahnya.

Eni mempekerjakan enam orang tetangga, dengan sistem borongan. Dalam satu hari total produksi yang bisa dicapai sebanyak 600 masker. Namun kini Eni menggenjot produksi menjadi 2 ribu masker per hari.

Sebagai konsekuensi, Eni juga menaikan upah jahit per masker yang awalnya Rp 100 per buah, kini menjadi Rp 200 per buah. Semua dilakukan demi memenuhi pesanan dari berbagai pihak. Naikknya pesanan ini diduga karena kesulitan masyarakat mendapatkan masker.

“Kalau yang dari pabrik tetap, karena sudah kontrak. Belakangan banyak instansi, ada pula teman dari Jakarta mendadak pesan,” sambung Eni.

Karena banyaknya pesanan yang masuk, Eni tidak sanggup melayani semuanya. Sementara ia juga tidak mungkin menambah tenaga kerja, karena harus mengajari dari awal. Pengalamannya menggunakan tenaga kerja dadakan, pengerjaannya kurang memuaskan karena terburu-buru.

Karena itu Eni tetap memilih memberdayakan para tetangga. Mereka bekerja dari rumah sambil tetap mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, seperti mengantar anak ke sekolah. Eni terbantu karena produksi terpenuhi, sementara para pekerja mendapat penghasilan tambahan tanpa mengabaikan pekerjaan rumah tangga.

“Jadi mereka itu kerjanya tidak full. Mereka tetap bisa melakukan pekerjaan lain seperti biasanya,” ungkap perempuan yang merintis usaha masker tahun 2005 ini.

Masker yang dibuat Eni awalnya memang dikhususkan untuk menahan demi kaca yang halus. Ada dua model yang dibuat, masker dengan filter dan tanpa filter. Filter yang dipakai adalah jenis kapas khusus yang disebut kapas pembalut.

Kedua produk ini dibuat sesuai dengan spesifikasi pabrik pemesan. Kain yang digunakan adalah jenis SBX, BG atau polikot. Untuk penggunaan di pabrik, biasanya sekali pakai langsung dibuang. Namun untuk penggunaan harian, masker ini bisa dicuci dan dipakai ulang.

“Filter dan kainnya tidak rusak kalau dicuci. Hanya saja kalau digantung karet elastisnya jadi molor,” ujarnya.

Meski saat ini terjadi kelangkaan masker, Eni enggan meraup dengan cara aji mumpung. Dia tetap memasang harga wajar, Rp 18.000 per pak berisi 20 masker tanpa filter. Sedangkan masker dengan filter dibandrol dengan harga Rp 30.000 per pak berisi 20 masker.

Karena banyaknya pesanan, hampir tidak ada contoh masker yang tersisa di rumah Eni. Setiap produk yang jadi langsung dikemas sesuai pesanan, dan lekas dikirim. Bahkan Eni yang biasanya mengurusi manajemen pemasaran, juga turun tangan ikut menjahit.

“Kendalanya sekarang bahan bakunya mulai naik, mungkin stoknya menipis karena terpengaruh virus corona. Jadi saya terpaksa ikut menaikkan harga,” ucapnya.

Eni berkisah, saat letusan Gunung Kelud Februaei 2014 dirinya pernah kebanjiran pesanan masker. Namun saat itu hanya lima hari kondisi kembali normal. Berbeda dengan kondisi saat ini, semakin hari pesanan justru semakin meningkat.

“Kalau sekarang semakin hari bukannya turun, pesanan malah semakin banyak. Mungkin karena masker benar-benar langka saat ini,” pungkas Eni. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved