Breaking News:

Berita Tulungagung

Seiring Merebaknya Virus Corona, Eni Kebanjiran Pesanan Masker

merebaknya wabah virus corona membuat Eni, pembuat masker di Tulungagung kebanjiran pesanan.

Penulis: David Yohanes | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Eni Kusrini (40) menunjukkan produk masker buatannya. 

Kedua produk ini dibuat sesuai dengan spesifikasi pabrik pemesan. Kain yang digunakan adalah jenis SBX, BG atau polikot. Untuk penggunaan di pabrik, biasanya sekali pakai langsung dibuang. Namun untuk penggunaan harian, masker ini bisa dicuci dan dipakai ulang.

“Filter dan kainnya tidak rusak kalau dicuci. Hanya saja kalau digantung karet elastisnya jadi molor,” ujarnya.

Meski saat ini terjadi kelangkaan masker, Eni enggan meraup dengan cara aji mumpung. Dia tetap memasang harga wajar, Rp 18.000 per pak berisi 20 masker tanpa filter. Sedangkan masker dengan filter dibandrol dengan harga Rp 30.000 per pak berisi 20 masker.

Karena banyaknya pesanan, hampir tidak ada contoh masker yang tersisa di rumah Eni. Setiap produk yang jadi langsung dikemas sesuai pesanan, dan lekas dikirim. Bahkan Eni yang biasanya mengurusi manajemen pemasaran, juga turun tangan ikut menjahit.

“Kendalanya sekarang bahan bakunya mulai naik, mungkin stoknya menipis karena terpengaruh virus corona. Jadi saya terpaksa ikut menaikkan harga,” ucapnya.

Eni berkisah, saat letusan Gunung Kelud Februaei 2014 dirinya pernah kebanjiran pesanan masker. Namun saat itu hanya lima hari kondisi kembali normal. Berbeda dengan kondisi saat ini, semakin hari pesanan justru semakin meningkat.

“Kalau sekarang semakin hari bukannya turun, pesanan malah semakin banyak. Mungkin karena masker benar-benar langka saat ini,” pungkas Eni. 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved