Grahadi

Antisipasi Wabah Virus Corona Jawa Timur

Wabah Virus Corona, Melasti Jelang Nyepi di Jatim Tak Ada Keramaian, Peribadatan di Pura Dibatasi

Antisipasi penyebaran virus corona, perayaan Hari Raya Nyepi di pura tak akan diikuti banyak massa dan tidak ada pengumpulan massa dalam jumlah besar.

Wabah Virus Corona, Melasti Jelang Nyepi di Jatim Tak Ada Keramaian, Peribadatan di Pura Dibatasi
SURYA.co.id/Sugiharto
Dua orang mahasiswa menyelesaikan pembuatan ogoh-ogoh di Pura Segara Surabaya, Sabtu (21/3/2020). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak memastikan bahwa perayaan Melasti jelang Hari Raya Nyepi di Jawa Timur akan mengacu pada mekanisme peringatan Melasti dan Nyepi yang ada di Bali di tengah wabah virus corona (Covid-19).

Yaitu perayaan Hari Raya Nyepi di pura tak akan diikuti banyak massa dan tidak ada pengumpulan massa dalam jumlah besar.

Keputusan itu menjadi hasil kesepakatan bersama antara Pemprov Jatim bersama para pemuka agama dan organisasi keagamaan Hindu, di Grahadi, Sabtu (21/3/2020).

Upacara keagaamaan yang dibatasi dengan tidak melibatkan massa dalam jumlah besar juga diterapkan untuk umat agama Budha serta Konghuchu.

“Hari ini, kami bertemu perwakilan Umat Hindu, Budha, Konghucu. Beliau semua sudah mengamati perkembangan dinamika yang ada dan sudah melakukan langkah-langkah secara maksimal berkaitan kegiatan-kegiatan yang mewakili umat,” kata Emil usai pertemuan berakhir.

Umat Hindu akan melakukan Hari Nyepi, pada 25 Maret 2020 mendatang di Bali mejadi rujukan teknis upacara yang dilakukan ditengah kondisi darurat bencana akibat covid-19.

Upacara yang tadinya dihadiri ribuan orang didesentralisasi di sejumlah pura maksimal 25 orang untuk pura besar dan 10 orang untuk pura di tingkat kecamatan.

“Di Jawa Timur ada 400 ribu umat Hindu. Ini menjadi sebuah pertimbangan serius dari pemuka agama Hindu, mereka akan menyesuaikan merujuk dengan apa yang ada di Bali untuk diterapkan di sini. Artinya ada langkah-langkah yang akan meminimalisir konsentrasi massa. Bahkan dapat dikatakan, benar-benar kegiatan dilakukan dalam jumlah sedikit. Semakin sedikit orangnya dan semakin terpantau orangnya langkah mitigasi semakin dapat diandalkan,” tegas Emil.

Teknis meminimalisir massa tersebut dilakukan untuk kegiatan ibadah yang sangat critical. Di luar yang critical atau tidak bisa ditinggalkan sudah tidak ada kegiatan.

“Kunjungan ke wihara, ke klenteng hampir sudah tidak ada saat ini. Bahkan dari umat Hindu mereka menyampaikan, mereka sudah terbiasa ibadah nyepi. Arinya sudah biasa melakukan ibadah di rumah masing-masing,” tambah Emil.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved