Breaking News:

Citizen Reporter

Menolak Stigma Membaca Itu Membosankan, Ini yang Dilakukan Mahasiswa Universitas Islam Malang

Mau menjadi pionir di kampus? Angkut semua buku dan buka lapak baca. Ajak teman supaya buku semakin banyak. Itu yang dilakukan mahasiswa Unisma.

citizen reporter/M Afnani Alifian
Di salah satu sudut kampus Universitas Islam Malang, setiap Rabu, dibuka lapak baca. 

Mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) memiliki cara sendiri untuk mendorong mahasiswa gemar membaca dengan membuka lapak baca. Membaca bagi sebagian orang menjadi hal yang cukup membosankan. Saat ini, disinyalir di kalangan mahasiswa tengah krisis membaca buku. Ditambah lagi gawai yang tidak bisa lepas dari tangan membuat orang enggan membaca buku.

Salah satu upaya menciptakan iklim gemar membaca dan mematahkan stigma membaca itu membosankan adalah keberadaan lapak baca. Itu seperti lapak baca Gerilya Literasi. Lapak baca Gerilya Literasi terletak di gazebo Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unisma.

Lapak baca digelar setiap Rabu mulai pukul 07.00–14.00. Lapak baca itu sudah setahun berjalan. Pada 25 februari 2020 genap berusia satu tahun.

Sembilan mahasiswa tampak bercengkerama di depan buku-buku, Rabu (11/3/2020). Ada yang khusyuk membaca, ada pula yang tengah berdiskusi. Salah seorang dari mereka, yaitu Akhmad Mustaqim. Ia pendiri gerakan itu.

Akhmad mengungkapkan, keberadaan lapak baca itu bukan untuk menyaingi perpustakaan, namun sebagai upaya agar mahasiswa Unisma tertarik untuk membaca buku. Bukan hanya itu, di lapak itu mereka bisa ngobrol santai sekaligus berkarya.

“Memang di kampus sudah ada perpustakaan. Kehadiran kami ini sebagai upaya menikmati buku, diskusi santai, sembari minum kopi,” ungkapnya ramah.

Buku-buku di lapak baca berasal dari buku pribadi Akhmad dan tiga temannya, yaitu Dani, Derry, serta Mukti. Mereka berempat disatukan kesamaan hobi: suka membaca sembari berdiskusi santai.

“Jadi, buku yang berada di sini tidak mesti sama tiap minggunya. Kadang-kadang banyak novel, kadang pula lebih banyak buku puisi, bergantung pada keinginan dan pesan dari para pengunjung,” katanya.

Akhmad mengaku, selama setahun pembaca mengalami peningkatan. “Dari yang awalnya hanya teman teman dekat, sampai dikenal seluruh Unisma, bahkan sampai luar kampus. Saya sangat bersyukur, sebab tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali sedekah buku,” ungkapnya.

Dari data yang ia catat, yang datang membaca delapan orang. Saat ini sudah sampai 20 orang. Pada pembaca baru, Akhmad akan meminta nomor telepon untuk kemudian dimasukkan ke grup WhatsApp. Itu bertujuan mengingatkan tanggal pengembalian buku, pemesanan buku, juga untuk mendata pembaca.

Harapan dari lapak baca gratis ini untuk menyadarkan mahasiswa Unisma akan pentingnya melek literasi. Akhmad juga berharap hal itu dapat diterapkan di seluruh Indonesia sebab bagi dia dan tiga temannya, literasi merupakan poros untuk memajukan peradaban.
“Dari literasi, kita dapat mempertajam pengetahuan, memperluas wawasan, dan memperhalus perasaan,” tutur Akhmad dengan bersemangat.

M Afnani Alifian
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Islam Malang
Menteri Pendidikan BEM Unisma
danialifian7@gmail.co

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved