Breaking News:

Citizen Reporter

Universitas Jember Punya Cara Mendongkrak Variasi Kajian Skripsi Mahasiswa

Skripsi menjadi salah satu puncak aktivitas akademik mahasiswa. Tidak perlu bingung mencari topik karena Universitas Jember membuat roadmap-nya.

citizen reporter/Agustina Dewi S
FGD di Universitas Jember dilakukan untuk mendapatkan roadmap tema dan topik penelitian skripsi. 

Focus Group Discussion (FGD) kali ketiga kembali diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej), Jumat (28/2/2020). FGD berlangsung di Ruang Sidang FIB dengan tema Penguatan Teori dan Metodologi Bahasa dan Kesusasteraan (Roadmap Topik dan Tematik Skrispsi S1).

Agenda semacam itu menjadi kebutuhan penting bagi Prodi Sastra Indonesia Unej karena adanya tuntutan pada lulusan dari stakeholder. Dengan adanya tuntutan pada para lulusan itu membuat FGD ini menjadi sangat penting guna meningkatkan kapasitas dosen prodi.

FGD diproyeksikan dapat memperkuat teori dan metodologi dosen-dosen jurusan. Dengan FGD ini diharapkan dosen dapat membimbing dan mengarahkan tema dan pengerjaan skripsi mahasiswa.

Skripsi-skripsi mahasiswa Sastra Indonesia di samping mengaji karya sastra dari segi instrinsiknya perlu pula diarahkan untuk mengkaji secara ekstrinsik. Itu agar mahasiswa dapat memahami permasalahan karya sastra secara holistik kondisi masyarakat yang digambarkan karya sastra itu.

“Selama ini, skripsi yang diteliti mahasiswa rata-rata berkutat pada hal-hal teoritik sastra saja. Seharusnya teori-teori sosial sudah bisa masuk dalam karya sastra, karena budaya selalu berkembang setiap hari dan membuat perubahan sosial. Misalnya, teori perubahan budaya, interpretatif dan simbolik. Jika memang diperlukan, dalam penggalian data, metode wawancara bisa digunakan untuk mengetahui bagaimana proses kreatif pengarang maupun tanggapan pembaca,” papar pemantik diskusi, Asri Sundari.

Pencarian kebenaran melalui penelaahan karya sastra dapat didekati dengan dua pendekatan baik secara kualitatif maupun kuantitatif bergantung pada tujuan dan metode penelitian yang digunakan. Karya sastra dapat diteliti secara intrinsik dan ekstrinsik.

Secara intrinsik artinya karya sastra diteliti dari hubungan dalam teks karya itu sendiri. Sedangkan secara ekstrinsik, karya sastra diteliti dengan dihubungkan dengan disiplin ilmu terkait, misalnya cultural studies, poskolonial, feminisme, dan lain-lain.

Namun, Heru SP Saputra mengingatkan, penelitian sastra tidak harus menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara. Penelitian yang terfokus pada kajian pustaka cukup menginterpretasi dan memaknai data berupa teks yang ada di dalam karya sastra dalam relasinya dengan konteks, baik konteks sosial, konteks kultural, konteks psikologis, maupun konteks-konteks yang lain.

“Jika mahasiswa meneliti sastra lisan, folklor, misalnya mantra, maka perolehan data harus dilakukan dengan wawancara kepada informan. Dalam penelitian semacam ini, wawancara menjadi salah satu metode pengumpulan data yang sangat penting. Selain itu, dapat ditambahkan dengan observasi-partisipasi dan kajian terhadap dokumen-dokumen pendukung,” kata Heru.

Hal serupa juga dinyatakan Novi Anoegrajekti. Ia menyatakan, dalam sastra terdapat teks sosial dan teks sastra.

“Jadi, ada keterikatan antara teks sastra dengan realitas sosial untuk menghasilkan pemaknaan secara sosial, ” terangnya.

Pradigma dalam keilmuan tidak bersifat tunggal. Demikian juga paradigma dalam sastra, tidak bersifat tunggal. Paradigma ini selanjutkan akan menentukan metode yang akan digunakan. Hal itu menjadi dasar pengembangan teori-teori terbaru.

Agustina Dewi S
Dosen Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Jember
karitijeon55@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved