Berita Mojokerto

Pacet Menempati Ranking ke-2 Penderita DBD Terbanyak di Mojokerto, Diduga Ada Nyamuk Kiriman

data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Kecamatan Pacet menempati ranking kedua daerah paling rawan kejadian kasus DBD.

surya.co.id/mohammad romadoni
Fogging dilakukan untuk memberantas penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah di Kabupaten Mojokerto 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti bisa terjadi di segala tempat, termasuk di kawasan dataran tinggi seperti di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Sesuai data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Kecamatan Pacet menempati ranking kedua daerah paling rawan kejadian kasus DBD.

Dari data bulan Januari hingga Maret 2020, tercatat sementara ada delapan penderita DBD di Pacet, Mojokerto.

Data tersebut lebih tinggi jika dibandingkan di tahun 2019 yang berjumlah lima kasus DBD di wilayah tersebut.

Sedangkan, untuk sementara jumlah total penderita DBD ada 49 orang di Kabupaten Mojokerto

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Mojokerto, Eka Yuli Setyawan menjelaskan, segala kemungkinan nyamuk Aedes Aegypti bisa berada di Pacet yang notabene merupakan kawasan dataran tinggi bukan termasuk endemik nyamuk tersebut. Karena itulah, pihaknya berasumsi patut diduga bahwa penyebaran wabah DBD di Pacet itu bisa dipengaruhi oleh banyak faktor.

"Kami menyebutnya itu adalah nyamuk kiriman dari daerah bawah, bisa saja secara tidak sengaja terbawa mobil sehingga menggigit dan menyebabkan penyakit DBD," ujarnya saat dikonfirmasi Surya.co.id, Jumat (13/3/2020).

Ia mengatakan, adapun faktor lain yakni secara tidak disadari ada penderita DBD dari daerah bawah saat mengunjungi Pacet digigit nyamuk dan menularkannya ke orang lain yang juga melalui gigitan nyamuk tersebut.

"Bisa jadi, warga setempat terkena gigitan nyamuk Aedes Aegypti di daerah bawah lantas baru terdiagnosa DBD tiga hari kemudian," ungkapnya.

Masih kata Eka, untuk antisipasi wabah DBD pihaknya telah mengintruksikan kepada 27 Puskemas yang sudah siap menerima pasien penderita DBD di seluruh wilayah Mojokerto.

Terpenting, gejala awal DBD ditandai badan panas yang cenderung naik dan turun, pusing, mual sampai sakit perut.

Ada juga gejala DBD yang tidak tampak, biasanya penderita DBD terdeteksi ketika sudah mulai ada keluhan setelah hari ketiga dan keempat.

"Kondisi seperti ini harus segera diperiksakan ke dokter nanti melalui laboratorium medis untuk memastikan gejala DBD yang ditandai trombosit turun," jelasnya.

Ditambahkannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto tahun ini belum menjadikan wabah DBD sebagai kasus Kejadian Luar Biasa (KLB).

Pasalnya, penderita DBD cenderung turun jika dibandingkan bulan Januari sampai Maret di tahun 2019 yakni berjumlah 185 orang.

"Kami berharap semoga saja tidak ada kenaikan kasus kejadian DBD dan belum ada KLB," tandasnya.

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved