Breaking News:

Citizen Reporter

Ini Cara Survive di Alam, Evakuasi di Tengah Hujan

Jangan takut menghadapi situasi alam. Dibutuhkan latihan seperti yang dilakukan 200 siswa madrasah ibtidaiyah se-Kecamatan Tambaksari Surabaya.

citizen reporter/Siti Zulaikah
Pramuka Penggalang belajar survive di alam saat jambore. 

Sebanyak 200 siswa madrasah ibtidaiyah (MI) se-Kecamatan Tambaksari Surabaya mengikuti Jambore di bumi perkemahan Tlogo Sewu Pandaan Pasuruan, Jumat-Sabtu (28-29/2/2020). Sepuluh MI yang ada di Kecamatan Tambaksari mengirimkan masing-masing dua Penggalang beserta satu guru pendamping.

Jambore itu adalah kegiatan kali pertama bagi Penggalang MI Tambaksari tahun ajaran 2019-2020. Pukul 06.00 dengan empat bus, peserta berangkat menuju ke lokasi.

Kegiatan diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) dengan ketua Hj Chusnul Alifah. Ada empat pembina yang memandu, yakni Purbo Sari Retno Ningsih, Suhelmi, Yuni Saptorini, dan Puja Ashary.

Kegiatan dibuka dengan upacara. Hasanah Suyatun, salah satu kepala MI memberi pesan kepada seluruh peserta. Ia mengingatkan, Pramuka Penggalang harus memiliki karakter yang hebat, peduli sesama, dan mandiri.

Dengan telaten keempat kakak pembina mendampingi peserta untuk berlatih kemandirian, kecekatan, dan keterampilan dalam kerja regu. Hari pertama, tampak Yuni sang pembina dengan telaten memberikan materi Pengetahuan Umum Pramuka. Cara memasak cepat dan efisien pun diajarkannya. Puja memberikan materi pioneering kaki tiga, mendirikan bivak,drakbar, dan mendirikan tenda.

Berbagai kebolehan per regu ditampilkan pada Jumat malam. Puisi, nyanyian, dan banyolan menghangatkan suasana malam di bumi perkemahan meski tanpa api unggun karena cuaca yang tidak mendukung. Pembelajaran kesabaran juga terlatih karena peserta harus mau antre untuk wudu bahkan sekadar mencuci muka.

Pelajaran evakuasi pun secara spontan diajarkan para pembina saat hujan turun. Peserta mengemasi barang bawaan, tampak saling bantu di antara peserta meski belum akrab. Suasana kekeluargaan pun muncul.

Di hari kedua, peserta sudah siap per regu di lapangan untuk belajar membaca semaphore. Berdiri tegap Suhelmi, pembina muda yang penuh prestasi, memimpin pelatihan semaphore.

Sari melanjutkan materi keterampilan tepat guna (pemanfaatan barang bekas). Peserta dengan segala keseriusannya mengikuti kegiatan yang dilanjutkan dengan lomba per regu. Dengan penuh semangat tiap regu ikut serta perlombaan.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan jambore ini karena memotivasi dan memacu anak-anak untuk menumbuhkembangkan tanggung jawab dan kemandirian. Jadikan kegiatan jambore ini menjadi kegiatan yang menambah pengalaman serta kekeluargaan, saling mempererat tali kekeluargaan kita agar kegiatan menjadi sukses dan berkesan. Buatlah dalam menempa diri demi terciptanya Pramuka Penggalang yang berkualitas,” harap Chusnul Alifa.

Sabtu, tepat pukul 14.00 seluruh peserta, pembina, guru pendamping, dan kepala sekolah berkemas untuk kembali ke Surabaya. Pengalaman dua hari itu sungguh bermanfaat.

Siti Zulaikah
Guru SDN Rangkah IV Surabaya
Zulaikah703@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved