Berita Trenggalek

Mengintip Kantin Sehat SDN 2 Sengon Trenggalek: Melatih Disiplin & Hidup Tanpa Plastik Sekali Pakai

SDN 2 Sengon memang mengusung konsep kantin bebas plastik sekali pakai. Sudah sejak awal 2018 para siswa terbiasa dengan pola tersebut.

SURYA.co.id/Aflahul Abidin
Para siswa berbaris antre untuk membeli makanan di kantin sehat SDN 2 Sengon, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (10/3/2020). 

SURYA.co.id | TRENGGALEK - Pukul 10.00 WIB, jam istirahat bagi para siswa SDN 2 Sengon, Kabupaten Trenggalek.

Dari meja belajar di kelas, mereka menuju kantin yang berada di sisi paling timur kawasan sekolah.

Satu demi satu siswa berbaris di depan bangunan kantin yang setengah terbuka.

Ariel Dwi Agustin (12), salah satu siswa kelas 6, terlihat berbaris di tengah-tengah barisan yang mengekor rapi.

Meski di tempat terbuka, Ariel tetap merasa teduh. Tempat mereka antre dirindangi oleh tanaman-tanaman rambat yang berfungsi sekaligus sebagai payung.

Di tangan Ariel, tergenggam uang pecahan Rp 2 ribu. Ariel berniat membeli bakso tanpa kuah dan jus buah jambu.

Ketika sampai di barisan paling depan, ia mulai mengambil makanan dan minuman.

Setelah membayar ke petugas kantin, Ariel berbegas ke taman sekolah untuk menikmati menunya.

Dari tempat ini, ia bisa menikmati pemandangan pegunungan yang mengelilingi area sekolah.

Maklum, SDN 2 Sengon berada di desa di Kecamatan Bandungan. Kecamatan ini dikenal sebagai salah satu wilayah pegunungan di Kabupaten Trenggalek.

"Senang beli di kantin karena makanannya sehat," kata Ariel, sembari menikmati kudapannya, Selasa (10/3/2020).

Makanan yang Ariel bawah bebas plasik sekali pakai. Dari kantin, ia membawa bakso dengan wadah piring kecil. Sementara jus jambu diwadahi gelas.

Kantin di sekolah itu memang mengusung konsep bebas plastik sekali pakai.

Tak ada satu pun makanan dan minuman berwadah bungkus plastik.

Bahkan, nasi bungkus ukuran mini pun dikemas dengan daun pisang.

Bagi Ariel, makanan yang tersedia di kantin terasa nikmat.

"Lebih enak dari pada jajan buatan pabrik. Kalau itu kan biasanya ada bahan kimiannya. Jadi kurang sehat," tambahnya.

Kesan yang sama pun muncul dari Olivia Nur Aisyah Putria, teman sekelas Ariel.

Saban jam istirahat, ia akan bergegas ke kantin, antre, mengambil beberapa kudapan, membayarnya, lalu menikmati makanan itu di taman sekolah.

"Lebih enak jajanan tanpa bungkus plastik. Enggak ribet. Langsung dimakan," kata Olivia.

Setelah makanan dan minumannya habis, Ariel dan Olivia juga para siswa lain kembali ke arah kantin.
Mereka mencuci piring dan gelas di tempat cuci tangan yang disediakan.

Selepas menyerahkan benda-benda itu ke petugas kantin, para siswa kembali ke kelas masing-masing.

SDN 2 Sengon memang mengusung konsep kantin bebas plastik sekali pakai. Sudah sejak awal 2018 para siswa terbiasa dengan pola tersebut.

Petugas kantin menyediakan kudapan sehat yang sebagian besar dikirim oleh para orang tua murid.

Salah satu petugas kantin, Sumarti mengatakan setidaknya ada delapan wali murid yang rutin mengirim jajan dan nasi bungkus ke sekolahan.

"Kalau kami ambil dari wali murid sendiri, mereka akan menyediakan makanan yang benar-benar sehat. Soalnya, nantinya makanan itu juga akan dikonsumsi oleh anak mereka," terang Sumarti.

Selain sehat, makanan di kantin juga dijual dengan harga terjangkau bagi siswa SD. Yakni mulai Rp 500 hingga 2.000.

Menu makanan yang disediakan, seperti nasi pecel, nasi gegok, nasi sayur, gorengan, bakso tanpa kuah. Sementara minumannya jus jambu dan es teh.

Pihak pengelola kantin juga tak menarget untung tinggi. Yang penting cukup untuk biasa operasional.

Saban hari, aku Sumarti, keuntungan dari pengelolaan kantin antara Rp 20.000 hingga Rp 40.000 saja.

Tak cuma pengelola, kantin juga melibatkan siswa untuk berpartisipasi mengelola dan menjaga kantin.

Dua siswa bertugas sebagai anggota kelompok kerja alias pokja kantin setiap jam istirahat.

Tugas mereka memastikan para siswa antre dengan baik dan melayani temannya yang membeli jajan.

Hari itu, siswa yang bertugas adalah Renata Syntia Ningsih (13) dan Septa Wulandari (12). Mereka sama-sama duduk di kelas 6.

Untuk membedakan dengan siswa lain, Renata dan Septa memakai celemek.

Mereka juga yang memastikan tak ada siswa yang berbaris berdempetan dengan teman di depan maupun di belakangnya.

Pihak sekolah sengaja membuat aturan antre kantin demikian agar para siswa terlatih menghargai privasi satu sama lain.

"Tugas saya juga ikut membersihkan kantin dan menata barisan. Senang karena bisa ikut melatih teman-teman agar disiplin," ucapnya.

Tak mudah mengubah kantin konvensional di sekolah senjadi kantin sehat.

Pihak sekolah membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk benar-benar bisa menjalankan kantin berkonsep hijau tersebut.

"Pertama, waktu untuk menghabiskan stok karena ada banyak jajanan di kantin yang dalam tanda kutip, kurang sehat," kata Kepala SDN 2 Sengon, Taufiq Susanto.

Kedua, pembiasaan siswa agar menggemari kudapan dan minuman sehat. Ia memastikan, makanan di kantin bebas bahan kimia seperti boraks dan formalin.

Sekolah itu juga telah mendapat sertifikat kantin sehat dari dinas kesehatan setempat.

Kantin sehat ini sebenarnya hanya satu dari berbagai konsep ramah lingkungan lain yang diterapkan di SD 2 Sengon.

Sekolah menggandeng wali murid dan masyarakat setempat untuk menjaga kebersihan sekolah. Mereka rutin melaksanakan kerja bakti di sana.

Taufiq sempat menunjukkan beberapa foto lama sekolah sebelum mengusung konsep eduwisata. Yakni sebelum tahun 2018.

Dari foto-foto itu, tampak sampah yang menggunung di beberapa titik.

Tanah kosong yang terlihat kotor saat itu, disulap jadi taman sekolah yang hijau dan dipenuhi bunga.

Kantin yang dulu kumuh diubah menjadi tempat yang bersih dan steril.

Kesadaran bahwa pendidikan akademik saja tak cukup menjadi latar belakang ide awal Taufiq dan pengajar lain mengubah konsep sekolah yang memiliki murid 105 itu.

"Kemampuan akademik siswa harus diimbangi juga dengan pendidikan karakter," tutur Taufiq.

Beberapa penghargaan sudah diraih oleh sekolah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Lembaga itu pernah meraih penghargaan Adiwiyata tingkat kabupaten (2018) dan Adiwiyata tingkat provinsi (2019).

Tahun ini, mereka akan bersaing dengan sekolah-sekolah lain untuk memperebutkan penghargaan serupa tingkat nasional.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved