Breaking News:

Citizen Reporter

Tari Muang Sangkal dari Madura untuk Tolak bala

Fotografi menjadi media yang efektif untuk mengangkat budaya Madura. Foto dapat berkisah tentang sisi lain Madura.

Tari Muang Sangkal dari Madura untuk Tolak bala
citizen reporter/Daenah
Anggota Last Community memotret penari Muang Sangkal di Bukit Kapur Arosbaya, Madura.

Madura memiliki keelokan budaya yang perlu dieksplorasi. Last Community (LC), komunitas fotografi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengangkat Tari Muang Sangkal dari Madura dan pencak silat Madura di Bukit Kapur Arosbaya.

Banyak sekali komunitas yang tersedia di UTM. LC yang berada di bawah naungan prodi Ilmu Komunikasi UTM memfokuskan pada fotografi.

Seluruh pengurus dan anggota muda LC beranjak menuju ke Bukti Kapur, Arosbaya, untuk melakukan pemotretan rutin, Minggu (1/3/2020). Sebelumnya, LC banyak mengeksplorasi tempat tempat yang berada di luar kota. Namun, kali ini LC berusaha keras untuk lebih banyak mengeksplorasi budaya yang terdapat di Madura. Maka dari itu, mereka (LC) mengangkat konsep Tari Muang Sangkal.

“Dari dulu, LC itu mengeksplorasi jalanan di luar kota dan sekarang mencoba tentang budaya Madura,” ujar Syahril Muharromi, Ketua Umum Last Community 2019.

Objek untuk pemotretan itu merupakan tiga anggota Divisi Tari dari UKM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Kesenian ABStra. Pemilihan objek itu karena UKMF Kesenian ABStra memang terkenal karena membawakan Tari Muang Sangkal.

“Tari Muang Sangkal merupakan tari tradisional yang berasal dari Sumenep. Maksud dari tarian ini adalah ritual tolak bala atau menjauhkan dari mara bahaya,” tutur Badriyatus Solihah, anggota Divisi Tari UKM FISIB Kesenian Abstra.

Tidak hanya Muang Sangkal. LC juga sudah melakukan pemotretan budaya lainnya, salah satunya adalah pencak silat Madura.

Hasil dari pemotretan ini akan disimpan sebagai koleksi LC. Koleksi itu akan diseleksi dan dipilih yang terbaik oleh seluruh anggota LC serta akan dimuat di majalah. Majalah itu akan dipamerkan di akhir periode kepengurusan LC 2019 yang ditujukan untuk umum

Pemotretan dilaksanakan rutin. Penyusunan konsep pada tiap pemotretan dibutuhkan waktu minimal 10 hari. Namun, untuk penyusunan konsep Tari Muang Sangkal dibutuhkan waktu yang lumayan lama, yaitu selama dua minggu.

“Sebelum melakukan pemotretan, kami menyusun konsep dulu. Biasanya perlu waktu minimal 10 hari. Akan tetapi, untuk konsep Tari Muang Sangkal ini perlu waktu dua minggu,” tutur Syahril.

Selain pemotretan untuk koleksi, kegiatan lain yang diselenggarakan oleh LC adalah pembagian seragam resmi kepada anggota muda yang baru saja di diklat. Seragam itu menyimpan kebanggaan pada pemakainya.

“Nanti setelah pemotretan, akan ada pembagian seragam resmi (PDH) untuk anggota baru,” kata Moh Fikriy, anggota muda LC.

Daenah
Mahasiswa Sastra Inggris
Universitas Trunojoyo Madura
Daenah324@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved